Footer Widget #4

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianPortugueseJapaneseKoreanArabicChinese Simplified

Thursday, February 11, 2010

Mistery Sisingamangaraja XII

Surat Sisingamangaraja ke Hatorusan

clip_image002 clip_image004

Surat menyurat antara dua kerajaan Batak, yakni Kerajaan Sisingamangaraja (Ada 12 Dinasti) dengan Kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Maritim Batak, yakni Kerajaan Hatorusan sering berlangsung sejak dahulu kala.
Kedua kerajaan ini memadukan kekhasan filosofi dan kekayaan kebudayaan batak. Dinasti Hatorusan dengan pendirinya Raja Uti dianggap sebagai tokoh spiritual dalam agama Sisingamaraja, Parmalim.
Di Barus sendiri, terdapat dua kerajaan Batak yang saling mendukung satu sama lainnya. Yang pertama, Kesultanan Dinasti Pardosi yang menjadi penguasa di Barus Hulu dan Kesultanan Dinasti Hatorusan (Pasaribu) yang menjadi penguasa di Hilir.
Sebuah surat, yang pernah terekam, dikirim oleh pihak dinasti SM Raja ke dinasti Hatorusan (Tuanku di Ilir) sebagai sebuah protes mengenai kedekatan pihak Hatorusan dengan pihak Belanda (Eropa) yang saat itu diyakini akan membawa malapetaka. Sebuah keyakinan yang terwujud dengan penjajahan Belanda di tanah Batak.
Gambar di atas merupakan, stempel kerajaan di atas surat yang dikirim pihak Sisingamangaraja ke Hatorusan. Uli Kozok menuliskannya dalam tulisannya: The Seals of The Last Sisingamangaraja. Surat tersebut dikirim pada tahun 1887.
Untuk lebih lengkapnya surat tersebut dapat di lihat di : Perpustakaan Nasional RI, di Jakarta, No. Vt. 158b.
Stempel yang sama juga pernah dikirimkan pihak Belanda di Padang Panjang. Dimana Sisingamangaraja mengumumkan bahwa dia sudah mengirim utusannya ke pihak Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Surat tersebut pernah dicetak kembali dan diterjemahkan dalam Lumbantobing (1967: 103)

Keristen, Parmalim atau Islam Sisingamangaraja XII

 

clip_image006

Selama ini banyak kontroversi yang muncul di masyarakat tentang agama yang dianut Sisingamangaraja XII.Ada yang mengatakan beragama Kristen, Islam, bahkan tidak sedikit yang menyebut beragama Parmalin.

Menurut sebagian orang, Parmalin merupakan agama aslinya orang Batak Menurut peneliti sejarah dari University of Hawaii, Minoa, Amerika Prof Uli Kozok, Raja Sisingamangaraja XII bukan beragama Islam, Kristen, maupun Parmalin, melainkan beragama Batak asli. “Dia bukan Kristen, Islam, atau Parmalin. Agama aslinya orang-orang Batak ada khusus, bukan Parmalin.

Kalau Parmalin campuran Islam dan Kristen”, papar Uli di Medan kemarin. Ketika agama Parmalin berkembang di Tanah Batak, Sisingamangaraja XII sendiri sudah berada di Dairi dalam pengungsian menghindari serbuan-serbuan tentara Belanda. “Jadi agama Sisingamangaraja XII adalah Batak asli yang usianya jauh lebih tua dari agama Parmalin”, bebernya.

Pada bagian lain peneliti senior ini menjelaskan, dalam melakukan komunikasi dengan pihak luar melalui surat, Sisingamangaraja XII ternyata menggunakan tiga jenis stempel berbeda. Hal itu diketahui dari cap yang dibubuhkan pada surat-suratnya yang ditujukan ke Pemerintah Belanda maupun Zending Kristen IL Nomensen. “Sisingamangaraja XII telah melakukan tiga kali percobaan dalam pembuatan stempel untuk berhubungan dengan pihak lain. Stempel yang ketiga bentuknya lebih baik dan sempurna dari dua stempel sebelumnya,” kata Uli Kozok. Ada empat surat Sisingamangaraja XII yang saat ini sedang dia teliti, tiga surat ditujukan kepada Zending Kristen IL Nomensen dan satu surat ditujukan kepada Pemerintah Hindia Belanda.

IL Nomensen sebenarnya sangat tidak suka terhadap Sisingamangaraja XII karena sangat menentang kehadirannya di tanah Batak. Bahkan IL Nomensen pernah mengatakan musuh abadi Pemerintah Belanda dan Zending Kristen adalah Sisingamangaraja XII. “Nommensen pula yang memanggil tentara Belanda agar masuk ke tanah Batak dengan menggunakan pasukan yang terdiri atas orangorang Jawa, Manado, dan Maluku.

Saat ini keempat surat-surat asli Sisingamangaraja XII tersebut masih tersimpan dengan cukup baik di Wuppertal Jerman,”ujarnya. Justru paling menarik di stempel dan isi surat itu, kata Uli, Sisingamangaraja XII tidak menggunakan aksara Batak Toba, sebagai daerah asalnya. Namun,sudah menggunakan campuran aksara Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu, dan huruf kawi. Itu membuktikan campuran budaya sudah masuk pada masa itu. Selain itu, Sisingamangaraja XII sebenarnya tidak mengenal huruf dan tulisan. Untuk itu, digunakan dua orang juru tulis dalam persoalan surat- menyurat, yakni Heman Silaban dan Manse Simorangkir.  Kedua juru tulisnya tersebut merupakan alumni Zending IL Nomensen yang kemudian berbelok arah memihak Sisingamangaraja karena tidak lulus dalam ujian menjadi guru.

Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Unimed Ichwan Azhari mengatakan, masih banyak misteri yang masih perlu diteliti lebih jauh tentang Sisingamangaraja XII, baik tentang hidupnya, surat-suratnya, maupun agamanya. Tentang kematiannya juga masih menjadi misteri. Kalau benar Sisingamangaraja XII di tembak mati oleh serdadu Belanda bernama Christopel, kenapa dia tidak naik pangkat seperti layaknya pasukan-pasukan Belanda lainnya yang berhasil mematahkan perlawanan-perlawanan musuh. “Begitu juga dengan surat-suratnya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kita tidak mengetahui apa sebenarnya isinya. Semua ini masih menjadi tanda tanya di kalangan sejarawan”, ujarnya.

Perlu kita mengetahui bagaimana dan siapa sisingamangaraja XII dimata Keristen Protestan HKBP sbb:

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA SI SINGAMANGARAJA XII DI MATA HKBP

Oleh: Pdt. Rachman Tua Munthe,MTh
(Praeses HKBP Distrik III Humbang)

PENDAHULUAN

Dalam buku kecil (saku) berjudul “Abastraksi Pelayanan DR.Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak” yang disusun oleh Seksi Sejarah dan Penggalian Nilai Budaya Panitia Napak Tilas Perjalanan DR I.L.Nommensen Di Tanah Batak Tahun 2007, ada dicatat pada hal. 24-25 demikian:

"Waktu perang Raja Sisingamangaraja XII melawan Tentara Belanda. Nommensen mengambil sikap bijaksana dan netral. Peranan Pdt.I.L.Nommensen yang sudah ditetapkan menjadi Ephorus HKBP sejak Tahun 1881, yang berkedudukan di Pearaja Tarutung sangat berperan banyak dalam hal ini. Karena dia bukan bangsa Belanda, tetapi Jerman, dan berusaha mengambil sikap netral, ditengah-tengah peperangan orang Batak dengan Belanda. Jika Tentara Belanda menimbulkan luka dan penderitaan, maka Pdt I.L.Nommensen membawa obat penyembuh luka dan penghiburan. Bersamaan dengan itu, dia menterjemahkan Injil dan kepercayaan kepada Tuhan Allah, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus, sebagai penyembuh yang Agung (Pandaoni Bolon).”

Sehubungan dengan hal di atas, bagaimana sebenarnya sikap HKBP sejak awal mulanya kepada Pahlawan Nasional Raja Si Singamangaraja XII menarik kita perhatikan. Sehubungan pada tgl. 17 Juni 2007 akan ada Pesta besar merayakan 100 TAHUN HARI ULANG TAHUN RAJA SISINGAMANGARAJA XII bertempat di Istana Raja Si Singamangaraja di Bakara, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Propinsi Sumatera Utara. Yang menurut informasi yang diberitahukan Bapak Bupati Humbang Hasundutan St.Drs.Maddin Sihombing MSi akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Tentu berbicara tentang sikap HKBP dapat berarti menunjukkan kepada gagasan politik atau pemikiran HKBP sebagai gereja dalam hubungannya dengan penguasa atau pemerintah/Negara di Indonesia .

BELANDA MEMASUKI DAERAH BATAK TAHUN 1878

clip_image008

Kita mengetahui HKBP dalam hal ini “Gereja Batak” yang diasuh Lembaga Zending RMG (Rheinischen Misions Gesellchaft) adalah lahir di daerah yang belum dikuasai oleh Kolonial Belanda sepenuhnya, yaitu pada tahun 1861. Maka pemerintah yang pertama dihadapi HKBP adalah Raja-Raja Batak, yang terdiri dari Raja-raja Bius atau Raja Huta (Pengituai Desa), termasuk di dalamnya Raja Sisingamangaraja. Gereja belum mengahadapi masalah yang berhubungan dengan social politik terutama oleh sistim pemerintahan modern.

Baru setelah tahun 1878 Belanda memasuki daerah Batak dengan 306 desa di Silindung dan Sipoholon menjadi wilayahnya. Pada mulanya memang politik colonial Belanda dijalankan di tanah Batak adalah terutama di wilayah yang sudah menjadi Kristen. (Band. Clark E.Cunningham, “The Postwar Migration of the Toba Bataks to East Sumatra ”, Yale University 1958). Hal ini sehubungan dengan politik colonial Belanda sejak tahun 1850 dengan motif ekonomis, perluasan militer, perluasan pegawai, perluasan politik dan agama, yang berkaitan dengan liberalisme, humaniterisme, kristianisme yang ikut serta dalam membentuk politik colonial Belanda. Semuanya ini dalam gerakan pasifikasi dari pemerintahan colonial Belanda.

Si Singamangaraja XII tidak menyetujui pemasukan desa-desa di Silindung – Sipoholon (306 desa itu) menjadi wilayah pemerintahan Belanda.. Sejak itulah timbul perjuangan Sisingamangaraja XII selama 30 tahun (1877 – 1907), yang berusaha memerdekakan daerah Batak. Dari buku “Eben-Ezer 75 Taon Hoeria Kristen Batak Protestant”, Laguboti 1936, yang mencatat perjalanan HKBP tahun 1861-1936 memang kita membaca bahwa tulisan tersebut cenderung mendukung pemerintahan Belanda dan menyudutkan perjuangan Si Singamangaraja XII. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Raja Si Sisingamangaraja XII yang membuat keributan, yang menghambat jalannya usaha penginjilan, yang mengadakan permusuhan, bukan hanya terhadap pemerintah Belanda, tetapi juga terhadap Zending. Dalam buku J.Sihombing, “Saratus Taon Huria Kristen Batak Protestan (1861-1961) juga mencatat bahwa kedatangan pemerintah Belanda di daerah Batak ikut berperan meningkatkan kuantitas orang-orang Batak Kristen. Hal itu terjadi terutama setelah kedatangan Gubernur Ariens dari Padang ke Silindung tahun 1869, banyak dibabtis menjadi Kristen di Silindung, orang-orang Batak di Sigompulon bebas masuk menjadi Kristen. Memang dicatat penyambutan penduduk Sigompulon terhadap kunjungan Gubernur Ariens tgl. 14 Desember 1868 luar biasa meriahnya. Mungkin hal ini pengaruh Pdt Heine dan Pdt. Van Asselt yang melayani di tempat itu. (Lihat. A.A.Sitompul -penyunting-, “Perintis Kekristenan di Sumatera Bagian Utara”, Jakarta 1986).

J.Sihombing juga menuliskan setelah Si Singamangaraja XII mengungsi dari Bakara, waktu itu berkembanglah kekristenan di Lintongnihuta dan Doloksanggul terutama setelah meninggalnya Si Singamangaraja XII tahun 1907, maka Humbang masuk Kristen. Dapat kita katakan terutama pada waktu pemerintahan Belanda meluaskan wilayah pemerintahannya di daerah Toba, banyak dimanfaatkan tenaga orang Batak yang telah mendukung Belanda melawan orang Batak yang mendukung Si Sisingamangaraja. Jadi bukan orang Batak Kristen yang berperang melawan orang Batak “Sipelebegu”, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Makanya dalam buku kecil “Sejarah Ringkas Dari R.Si Singamangaraja ke-XII”, Balige 1969. Bupati K.D.H. Tapanuli Utara selaku Ketua Umum Panitia Pembangunan/Peresmian Monumen Pahlawan Revolusi May.Jend. (Anumerta) D.I.Panjaitan di Balige, yang dihadiri Presiden Soeharto, mengatakan tentang keterlibatan orang-orang Batak yang ikut menyerang Si Singamangaraja XII sebagai “oknum-oknum yang mengkhianati perjuangan bangsa”.

SIKAP HKBP DALAM PERANG SI SINGAMANGARAJA XII

Sebagaimana dicatat dalam Tesis MTh dari Rachman Tua Munthe, “Sejarah Sosial-Politik Di Indonesia Dan Respons HKBP Terhadapnya, Terutama Melalui Sinode Godang Dan Majalah Immanuel: 1890-1965”, Pematangsiantar 1991 hl.21-22 (tidak diterbitkan), “Selama usaha pendudukan Belanda di Tanah Batak (1878-1908) banyak kampung-kampung yang dibakar. Pihak para tokoh gereja menunjukkan jalan perdamaian, agar Si Singamangaraja XII mau berdamai (mardenggan) dengan pemerintah Belanda.” Namun sebagaimana dicatat Edward O.V.Nyhus dalam bukunya: “An Indonesian In The Midst of Social Change: The Batak Protestant Christian Church, 1942-1957 (disertasi PH.D.) Wisconsin – Madison, 1987, karena ancaman-ancaman yang dilancarkan Si Singamangaraja XII, yang tidak hanya melawan pemerintah Belanda, tetapi juga menolak Zending, maka RMG dan orang-orang Kristen berpihak kepada pemerintah Belanda. Sehubungan dengan ini Lothar Schreiner dalam bukunya “Telah Kudengar Dari Ayahku – Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak”, Jakarta 1978, mengatakan: “Dalam sastra popular Si Singamangaraja XII muncul sebagai musuh bebuyutan agama Kristen. Terhadap penilaian yang berat sebelah ini diberi pertimbangan bahwa keadaan mau tidak mau mebuat dia menjadi lawan Zending dan pemerintah colonial. Lama Nommensen berusaha membantu mengikat suatu perjanjian antara dia dan pemerintah, dengan bersandar kepada perjanjian-perjanjian dengan lain raja-raja dan sultan-sultan setempat. Dengan cara ini serentak pula ia berharap dapat menjauhkan kekuasaan colonial dari Tanah Batak. Tetapi seorang utusan Zending Belanda, J.H.Meerwaldt, melalui berita yang berat sebelah, berhasil mempengaruhi pendapat umum di negeri Belanda tentang Si Singamangaraja. Itu mengakibatkan masuknya tentara colonial. Raja-datu itu dibunuh oleh tentara ini dalam pengejaran. Mayatnya dipertontonkan oleh pemerintah colonial secara terang-terangan di salah satu pasar yang terbesar di daerah Batak, untuk meyakinkan penduduk bahwa ia sudah benar-benar mati.”

clip_image010

J.T.Nommensen dalam buku “Ompu i DR. Ingwer Nommensen, Jakarta 1974, mencatat, Si Singamangaraja XII tidak menolak peranan Nommensen (Ephorus) sebagai juru damai, bahkan diminta kehadiran I.L.Nommensen bertemu dengan Si Singamangaraja sendiri, sebelum meledak perang di Bahalbatu tahun 1878. Tetapi entah alasan apa Kapten Scheltens menghalangi kehadiran I.L.Nommensen untuk bertemu dengan Si Singamangaraja. Dan entah alasan apa juga Si Singamangaraja tidak menuruti usul Kapten Scheltens. Akibatnya, meletus perang yang dimulai dari pihak Si Singamangaraja sendiri menyerang markas Belanda di Bahalbatu. (Band. W.B.Sijabat, Ahu Si Singamangaraja, Jakarta , 1982).

Keterlibatan “parbegu” (orang Batak yang masih belum masuk Kristen) memang besar dalam membantu Si Singamangaraja XII. Sebagaimana dicatat J.T.Nommensen bahwa diinformasikan di tiap-tiap pasar di Tanah Batak, orang-orang parbegu tidak perlu takut, karena mereka tidak akan diganggu pasukan Si Singamangaraja XII, asal tidak memihak kepada orang Kristen. Yang diancam usir dan dibunuh adalah orang kulit putih dan orang yang beragama Kristen. Dengan disamakannya orang Kristen dan pemerintah, rupanya telah mengundang aktifnya I.L.Nommensen mengikuti peperangan Belanda terhadap pasukan Si Singamangaraja XII. Sebelum perang di Bahalbatu (1878), I.L.Nommensen hadir di sana menjemput keluarga Pendeta Metzler yang bertugas di tempat itu. I.L.Nommensen juga hadir mengikuti pengejaran oleh pasukan tentara Belanda ke Paranginan, Hutaginjang, Meat dan Gurgur. (band. Andar Lumbantobing, “Parsorion (Riwayat Hidup) ni Missioner Gustav Pilgram Dohot Harararat ni Hakristenon di Toba”, P,Siantar 1981). I.L.Nommensen berjasa sekali mengadakan perjanjian di antara pemerintah Belanda dengan raja-raja huta yang telah takluk atau yang telah ditinggalkan oleh pasukan Si Singamangaraja XII. (H.Kraemer, “Sending di Hindia Belanda” dalam H.Baudet, dkk, “Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan”, Jakarta 1987). Mereka umumnya masih menganut agama “Parbegu”. Posisi I.L.Nommensen sebagai perantara memang ternyata besar manfaatnya untuk memasukkan keluarga raja-raja yang telah diikat perjanjian itu memasuki agama Kristen. O.L.Napitupulu dalam “Perang Batak Perang Sisingamangaraja”, Jilid I, Jakarta 1971, mencatat usaha I.L.Nommensen yang terutama adalah mencegah timbulnya peperangan atau tindakan-tindakan kekerasan. A.Sibarani dalam “Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Ever Ready 1980, menyatakan banyak orang-orang yang menyerah pada Kompeni Belanda melalui I.L.Nommensen. Kemudian kita melihat, penjelasan-penjelasan yang diberikan I.L.Nommensen rupanya dapat meyakinkan raja-raja Batak taat kepada pemerintah dan masuk agama Kristen.

POSISI ZENDING PADA PERANG SI SINGAMANGARAJA XII

Keterlibatan gereja dalam perang melawan Si Singamangaraja XII A.Sibarani melihat adalah karena alasan pertama dari kedatangan Belanda merupakan suatu tindakan “membela dan melindungi” kehidupan gereja dan pendeta-pendeta Zending di Tanah Batak (Silindung). Di mana banyak raja-raja yang belum Kristen tidak setuju kepada raja-raja yang rela hati menyerahkan tanah kepada Zending untuk tempat mendirikan rumah dan gedung gereja. Raja yang banyak kerjasama dengan Pendeta Zending dan bersedia menyediakan tanah di Silindung ialah Raja Pontas Lumbantobing. Banyak pengemat menyebutnya kemudian sebagai benefactor (pembuat amal) (Lihat M.Hutauruk, “Sejarah Ringkas Tapanuli Suku Batak”, Jakarta 1987).

Akibat dari usaha pemerintah Belanda yang mendukung gereja atau raja-raja yang menyetujui berdirinya gereja, tentu pihak gereja juga telah berada di pihak Belanda. Namun beberapa kali A.Sibarani mencatat bahwa perang gerilya Si Singamangaraja XII bukan ditujukan kepada agama Kristen atau para pekerja Zending di Tanah Batak. Si Singamangaraja bukan penentang agama Kristen. Diserangnya atau dibakar beberapa rumah gereja adalah karena seringnya pasukan Belanda menjadikan bangunan-bangunan Zending (rumah) itu tempat persembunyian atau markas mereka. Dalam hal ini memang ada yang berpendapat sebaliknya yang mengatakan “bahwa pendeta-pendeta Jerman membujuk kepala-kepala adat supaya memihak pada Belanda melawan pasukan Batak” (Lihat “Sejarah Ringkas dari R. Si Singamangaraja ke-XII, Balige 1961. Buku ini dipersembahkan kepada Presiden Suharto yang mengadakan ziarah ke Makam Pahlawan Nasional Raja Si Singamangaraja XII, tgl. 1-10-1969 di Soposurung Balige). A.Sibarani juga mencatat kehadiran I.L.Nommensen pada tempat-tempat terjadinya peperangan bukan yang mengikuti pasukan Belanda, tetapi kedatangannya adalah inisyatif tersendiri untuk mencoba menghubungi kedua belah pihak yang berperang untuk mengadakan suatu perundingan mencegah banyaknya pertumpahan darah. (Band B.H.Situmorang, “Sikap Orang Kristen (2), Jakarta 1983).

Dari penjelasan di atas dapat kita katakan, gereja HKBP yang dipimpin oleh Ephorus Pdt DR. I.L.Nommensen tidak terlibat dalam perang. Tetapi orang-orang Batak yang menjadi Kristen merekalah yang banyak turut serta mendukung kehadiran pemerintah Belanda. Gereja tetap berusaha sebagai juru-damai.

Dan bila lebih jauh kita coba meneliti bagaimana sebenarnya hubungan Gereja dan Pemerintah pada waktu itu, sulit dapat kita kaji bila hanya dilihat dari sudut tulisan-tulisan orang Barat. Karena, seperti dikatakan W.B.Sijabat, tidak ada orang Barat yang dengan terus terang mengatakan/menuliskan bahwa tujuan kedatangan Belanda ke Sumatera Utara (ke daerah merdeka seperti tanah Batak) adalah untuk memperoleh laba dengan jalan mudah. Alasan-alasan yang disebut ialah: menjaga “keselamatan para utusan-zending yang terancam”; mengamankan “perselisihan intern “orang-orang Batak. Kehadiran pemerintah Belanda merupakan permintaan langsung dari penduduk pribumi. Belanda mengadakan baji-baji dalam arti politis militer antara Minangkabau dan Aceh. Belanda takut Perang Aceh merambat ke seluruh Sumatera. Sijabat mencatat, Belanda adalah kurang respek kepada usaha zending di Sumatera. Tetapi rupanya pemerintah Hindia Belanda menginginkan Zending selalu berada di pihaknya. Bahkan Belanda seolah-olah mau “memaksa” agar Zending membantu usaha penguasaan pemerintah Hindia Belanda. Namun demikian dalam penelitian W.B.Sijabat mencoba menunjukkan tidak ada kerjasama di antara Zending dan Pemerintah Belanda, misalnya dalam menghapuskan perbudakan di Tanah Batak.

KESIMPULAN

Pengaruh timbulnya perlawanan Si Singamangaraja XII terhadap Belanda kepada kehidupan gereja terasa hanyalah sekitar tahun 1877-1889. Pada tahun 1877 saat mana banyak hasutan-hasutan dari pihak Si Singamangaraja XII mau membunuh orang-orang kulit putih dan orang-orang Kristen. Kemudian tahun 1878-1889 pada saat terjadinya peperangan di Bahalbatu, di daerah Toba (Balige) dll. Setelah tunduk tanah Batak kepada pemerintah Belanda jelas telah mempercepat penginjilan Pdt DR.I.L.Nommensen dengan kawan kawan di daerah pusat Batak, Toba. Tahun 1890-1895 adalah masa tenang di mana Si Singamangaraja XII telah bermukim di hutan Parlilitan (Kabupaten Humbang Hasundutan) dan membangun kerajaannya di sana . Sementara Zending dan Gereja makin meluas di tanah Batak, Toba, Samosir. (Hingga kini para penulis sejarah umumnya mencatat bahwa gagalnya Pahlawan Nasional Si Singamangaraja XII melawan Belanda, mengakibatkan pekabaran Injil dapat berkembang dengan bebas di Tanah Batak. Lihat misalnya Th.van den End, “Harta Dalam Bejana – Sejarah Gereja Ringkas”, Jakarta 2000). Di antara tahun 1895 sampai terbunuhnya Si Singamangaraja XII tahun 1907, tidak ada lagi perlawanan yang berarti dari pasukan Si Singamangaraja XII kepada pemerintah yang mengganggu keamanan Gereja. Selama timbulnya bentrokan di antara Si Singamangaraja XII dengan pemerintah Belanda, Gereja (Zending) berada pada pihak ketiga yang mencoba mengadakan perjanjian perdamaian. Dengan demikian, pemerintah colonial Belanda tidak sejajar dengan Zending dan Gereja..

1 comment:

Anonymous said...

menariknya, dalam buku A. Sibarani, salah satu Panglima perang Si Singamangaraja XII, yakni Ompu Babiat mengatakan, tiap2 raja Batak yang masuk Kristen, berbalik berperang membela Belanda.