Footer Widget #4

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutchRussianPortugueseJapaneseKoreanArabicChinese Simplified

Wednesday, February 24, 2010

Benarkah Batak toba keturunan israel yang hilang ? (bag-3)

Bangso Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang

image

Description:

Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea.
Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel. Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas kesukuan mereka.
Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan.
Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa
Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia.
Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan
orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke
negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak
pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga
dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa
perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan
hidup.
Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian
kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok
penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina,
tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur dengan penduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli.
Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di
negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam.
Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup
di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting, dll.
Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut
Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu
memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang
merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan.
Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari
mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan
transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya
mengapa ada Israel hitam.
Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan-
perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita
tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya
mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang
dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era
Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang
konon ada disana.
Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan
bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel
kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba
sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra),
adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang,
pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan
sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya.
Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD), sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA diantara bangsa-bangsa.
Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di
Hindia yang berdekatan dengan India. Bandingkan Yesaya 11:11: Pada
waktu Tuhan akan mengangkut pula tangaNya untuk menebus sisa-sisa
umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD) yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di Pulau-pulau di Laut.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta
dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi,
guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik
Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno.
Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan
tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam
Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama,
dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar
Alkitab.
Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah
keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi
karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka
bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang
Melayu.

image
Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel
dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk
pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke
pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin.
Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria.
Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga
dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai
orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu
terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan
menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam
ke perut bumi.
Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel
bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik
Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka.
Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat
untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.

Kesimpulan:

Copy of 240px-ReligijneSymbole.svg

Sah-sah saja siapapun mengakui dia keturunan siapa. Namun perlu disadari pengakuan-pengakuan tersebut tidak terlepas dari pengaruh Agama/keyakinan yang dianut dengan fanatik. Hal hal tersebut tidak asing bagi kita seperti orang Minang kabau ada yang mengakui mereka adalah keturunan Iskandar Zulkarnain ( Alexander the great), demikian juga di sunmatera utara banyak kelompok Islam Syiah mengakui dirinya adalah keturunan dar Nabi Muhammad saw, sedang mereka kita kenal adalah asli Batak atau Jawa (Pujakesuma). Jadi kalau ada orang Batak (nasrani), mengakui dirinya adalah keturunan Israel, sah-sah saja, itu menunjukkan ketaatan mereka pada Agama/keyakinannya. Jadi tidak perlu kita perdebatkan, mari saling menghormati keyakinan masing-masing tanpa berbuat atau mengeluarkan pendapat  yang tidak santun, yang akhirnya menjadikan perpecahan..

 

Friday, February 19, 2010

Benarkah Batak toba keturunan israel yang hilang ? (bag-2)

clip_image001[1]Dengan demikian banyak diantara bangsa Israel kuno kemudian kehilangan identitas mereka sebagai orang Israel. Ada sekelompok penduduk di daerah Tiongkok barat, diterima sebagai puak Cina, tetapi secara umum profil wajah mereka agak berbeda dengan penduduk Cina pada umumnya. Perawakan mereka lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit kuning dan bermata sipit. Mereka menyembah Allah yang bernama Yahwe. Sangat mungkin mereka adalah keturunan sepuluh suku Israel yang hilang yang telah kawin campur denganpenduduk lokal sehingga kulit dan mata menjadi seperti penduduk asli. Saya percaya banyak diantara para pembaca yang mengetahui bahwa di negeri Israel ada sekelompok kecil orang Israel yang berkulit hitam. Mereka adalah suku Falasha, yang sebelum berimigrasi ke Israel hidup di Etiopia selama ratusan generasi. Fisik mereka persis seperti Negro dengan segala spesifikasinya yaitu kulit hitam legam, bibir tebal, rambut keriting, dll.
Mereka mengklaim diri mereka sebagai keturunan Israel atau disebut Beta Israel, dan dengan bukti-bukti yang dimiliki, mereka mampu memenuhi seluruh kriteria yang dituntut oleh Pemerintah Israel yang merupakan syarat mutlak supaya diakui sebagai Israel perantauan. Setelah memperoleh pengakuan sebagai keturunan Israel, sebagian dari mereka kembali ke Tanah Perjanjian sekitar 15 tahun lalu dengan transportasi yang disediakan oleh Pemerintah Israel. Itulah sebabnya mengapa ada Israel hitam.
Mereka seperti orang Negro karena intermarriage dengan perempuan- perempuan lokal sejak kakek moyang mereka pergi ke Ethiopia. Kita tahu bahwa bahwa Ethiopia adalah salah satu negara yang penduduknya mayoritas Kristen yang paling tua didunia. Ingat sida-sida yang dibaptis oleh Filipus dalam Kisah 8:26-40. Bahkan sebelum era Kekristenan pun sudah ada penganut Yudaisme disana.Walaupun banyak yang kembali, sebahagian lagi tetap memilih menetap di negeri itu, dan merekalah yang menjaga dan memelihara Tabut Perjanjian yang konon ada disana.
Apakah ada diantara para pembaca yang pernah mendengar selentingan bahwa etnik Bangso Batak Toba, adalah juga keturunan bangsa Israel kuno yang hilang? Mungkin saja tidak, karena orang-orang Batak Toba sendiri banyak yang tidak mengetahuinya, kecuali segelintir yang memberikan perhatian terhadap hal ini.
Menurut kamus umum bahasa Indonesia Batak mempunyai arti (sastra), adalah petualang, pengembara, sedang membatak berarti berpetualang, pergi mengembara. Walaupun demikian orang Batak dikenali dengan sikap dan tindakannya yang khas, yaitu terbuka, keras dan apa-adanya. Hosea 19:17: Allahku akan membuang mereka (ISRAEL YANG MURTAD), sebab mereka tidak mendengar Dia, maka mereka akan MENGEMBARA diantara bangsa-bangsa.
Mengapa di Sumatera, karena Sumatera adalah salah satu pulau di Hindia yang berdekatan dengan India. Sumatera juga merupakan salah satu pulau di Lautan Samudera Hindia.
Bandingkan Yesaya 11:11: Pada waktu Tuhan akan mengangkut pula tangaNya untuk menebus sisa-sisa umatNya (Bangsa ISRAEL YANG MURTAD) yang tertinggal di Asyur, dan di Mesir, di Patros, di Ethiopia, dan di Elam, di Sinear, di Hamat dan di Pulau-pulau di Laut.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang anthropolog dan juga pendeta dari Belanda, profesor Van Berben, dan diperkuat oleh prof Ihromi, guru besar di UI (Universitas In 782 donesia), bahwa tradisi etnik Tapanuli (Batak Toba) sangat mirip dengan tradisi bangsa Israel kuno. Pendapat itu didasarkan atas alasan yang kuat setelah membandingkan tradisi orang Tapanuli dengan catatan-catatan tradisi Israel dalam Alkitab yang terdapat pada sebahagian besar kitab Perjanjian Lama, dan juga dengan catatan-catatan sejarah budaya lainnya diluar Alkitab.
Beberapa peneliti dari etnis Tapanuli juga yakin bahwa Batak adalah keturunan Israel yang sudah lama terpisah dari induk bangsanya, tapi karena intermarriage dengan penduduk lokal ditempat mana mereka bermukim membuat orang Batak secara fisik menjadi seperti orang Melayu.
Seorang Batak Toba, yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Israel dan menjadi warga negara, berusaha mengumpulkan data-data untuk pembuktian. Setelah merasa sudah cukup, dia mengajukannya ke pemerintah Israel yang waktu itu masih dipimpin oleh PM Yitzak Rabin. Tetapi tenyata data tersebut belum bisa memenuhi seluruh kriteria. Pemerintah Israel kemudian meminta agar kekurangannya dicari hingga dapat mencapai 100 persen supaya pengakuan atas etnis Batak sebagai orang Israel diperantauan dapat diberi. Konon kekurangan itu terutama terletak pada silsilah yang banyak missing links-nya, dan menelusuri silsilah itu agar sempurna sama sulitnya dengan menyelam ke perut bumi.
Peneliti berharap suatu waktu pada masa depan, Pemerintah Israel bisa saja mengubah kriterianya dengan menjadi lebih lunak dan etnik Batak diterima sebagai bahagian yang terpisah dari mereka. Setelah mendengar selentingan itu, saya benar-benar menaruh minat untuk menyelidiki sejauh mana budaya Bangso Batak Toba dapat memberi bukti similaritasnya dengan tradisi Israel kuno. Alkitab adalah buku yang prominent dan sangat layak serta absah sebagai kitab pedoman untuk mencari data budaya Israel kuno yang menyatu dengan unsur sejarah dan spiritual.
Beberapa diantara kesamaan tradisi Batak Toba dengan tradisi Israel kuno adalah sebagai berikut:
clip_image002
1). Pemeliharaan silsilah (Tarombo dan Marga)
Semua orang Tapanuli, terutama laki-laki, dituntut harus mengetahui garis silsilahnya. Demikian pentingnya silsilah, sehingga siapa yang tidak mengetahui garis keturunan kakek moyangnya hingga pada dirinya dianggap na lilu - tidak tahu asal-usul - yang merupakan cacat kepribadian yang besar. Bangsa Israel kuno juga memandang silsilah sebagai sesuatu yang sangat penting. Alkitab, sejak Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sangat banyak memuat silsilah, terutama silsilah dari mereka yang menjadi figur penting, termasuk silsilah Yesus Kristus yang ditelusuri dari pihak bapak(angkat) Nya Yusuf, yang keturunan Daud dan pihak ibuNya (Maria).
Catatan: MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal) .Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.
Catatan: Marga dalam kamus Inggris Hassan Shadily dan John Echols adalah CLAN, yakni Suku, Marga, dan KAUM. Dalam arti yang lain, Marga bias berarti Warga, dari bahasa India (Sansekerta, kemungkinannya) . Jadi, kalau ada orang Batak bermarga Tampubolon, berarti dia berasal dari KAUM TAMPUBOLON. Bandingkan dengan KAUM LEWI, KAUM YEHUDAH, KAUM SIMEON dan lain-lain.
TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah. Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga. Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo. Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling "mardongan sabutuha" (semarga) dengan panggilan "ampara" atau "marhula-hula" dengan panggilan "lae/tulang" . Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela" ,(suami dari adik ayah/Om), "Bapatua/ Amanganggi/ Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik) , PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.
2). Perkawinan yang ber-pariban
Ada perkawinan antar sepupu yang diijinkan oleh masyarakat Batak, tapi tidak sembarang hubungan sepupu. Hubungan sepupu yang diijinkan untuk suami-istri hanya satu bentuk, disebut marpariban. Cukup report menerangkan hal ini dalam bahasa Indonesia karena bahasa ini tidak cukup kaya mengakomodasi sebutan hubungan perkerabatan dalam bahasa Batak. Yang menjadi pariban bagi laki-laki ialah boru ni tulang atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Sedangkan yang menjadi pariban bagi seorang gadis ialah anak ni namboru atau anak laki-laki dari saudara perempuan bapa. Hanya hubungan sepupu yang seperti itu yang boleh menjadi suami- isteri. Karena suku Batak penganut patriarch yang murni, ini adalah perkawinan ulang dari kedua belah pihak yang sebelumnya sudah terjalin dengan perkawinan.
Mari kita bandingkan dengan Alkitab. Pada kitab Kejadian, Yakub menikah dengan paribannya, anak perempuan Laban yaitu Lea dan Rahel. Laban adalah tulang dari Yakub. (Saudara laki-laki dari Ribka, ibu dari Yakub). Didunia ini sepanjang yang diketahui hanya orang Israel kuno dan orang Batak yang sekarang memegang tradisi hubungan perkawinan seperti itu.
3). Pola alam semesta
Orang Batak membagi tiga besar pola alam semesta, yaitu banua ginjang (alam sorgawi), banua tonga (alam dimensi kita), dan banua toru (alam maut). Bangsa Israel kuno juga membagi alam dengan pola yang sama.
4). Kredibilitas
Sebelum terkontaminasi dengan racun-racun pikiran jaman modern, setiap orang Batak, terutama orang tua, cukup menitipkan sebuah tempat sirih (salapa atau gajut), ataupun sehelai ulos, sebatang tongkat, atau apa yang ada pada dirinya sebagai surat jaminan hutang pada pihak yang mempiutangkan, ataupun jaminan janji pada orang yang diberi janji. Walaupun nilai ekonomis barang jaminan bisa saja sangat rendah tetapi barang tsb adalah manifestasi dari martabat penitip, dan harus menebusnya suatu hari dengan merelealisasikan pembayaran hutang ataupun janjinya. Budaya Israel kuno juga demikian. Lihat saja Yehuda yang menitipkan tongkat kepada Tamar sebagai jaminan janji (Kej. 38).
5). Hierarki dalam pertalian semarga
Dalam budaya Batak, jika seorang perempuan menjadi janda, maka laki- laki yang paling pantas untuk menikahinya ialah dari garis keturunan terdekat dari mendiang suaminya. Ini dimaksudkan agar keturunan perempuan tsb dari suami yang pertama tetap linear dengan garis keturunan dari suami yang kedua. Misalnya, seorang janda dari Simanjuntak sepatutnya menikah lagi adik laki -laki mendiang (bandingkan dengan Rut 1:11).
Jika tidak ada adik laki-laki kandung, sebaiknya menikah dengan saudara sepupu pertama dari mendiang yang dalam garis silsilah tergolong adik. Jika tidak ada sepupu pertama, dicari lagi sepupu kedua. Demikian seterusnya urut-urutannya. Hal semacam ini diringkaskan dalam ungkapan orang Batak : "Mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. Marbona do sakkalan, marnampuna do ugasan". Dalam tradisi Israel kuno, kita dapat membaca kisah janda Rut dan Boas. Boas masih satu marga dengan mendiang suami Rut, Kilyon. Boas ingin menikahi Rut, tapi ditinjau dari kedekatannya menurut garis silsilah, Boas bukan pihak yang paling berhak. Oleh sebab itu dia mengumpulkan semua kerabat yang paling dekat dari mendiang suami Rut, dan mengutarakan maksudnya. Dia akan mengurungkan niatnya jika ada salah satu diantara mereka yang mau menggunakan hak adat-nya, mulai dari pihak yang paling dekat hubungan keluarganya hingga yang paling jauh sebelum tiba pada urutan Boas sendiri. Ya, mardakka do salohot, marnata do na sumolhot. (Baca kitab Rut).
6). Vulgarisme
Setiap orang dapat marah. Tetapi caci maki dalam kemarahan berbeda- beda pada tiap-tiap etnik. Orang Amerika terkenal dengan serapah: son of a bitch, bastard, idiot, dll yang tidak patut disebut disini. Suku-suku di Indonesia ini umumnya mengeluarkan makian dengan serapah : anjing, babi, sapi, kurang ajar, dll. Pada suku Batak makian seperti itu juga ada, tetapi ada satu yang spesifik. Dalam sumpah serapahnya seorang Batak tak jarang memungut sehelai daun, atau ranting kecil, atau apa saja yang dapat diremuk dengan mudah. Maka sambil merobek daun atau mematahkan ranting yang dipungut/dicabik dari pohon dia mengeluarka 6ea n sumpah serapahnya:, , Sai diripashon Debata ma au songon on molo so hudege, hubasbas, huripashon ho annon !!!". Terjemahannya kira-kira begini:,,Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku kalau kamu tidak kuinjak, kulibas, kuhabisi !!!".
Robeknya daun atau patahnya ranting dimaksudkan sebagai simbol kehancuran seterunya. Orang-orang Israel kuno juga sangat terbiasa dengan sumpah serapah yang melibatkan Tuhan didalamnya. Vulgarisme seperti ini terdapat banyak dalam kitab Perjanjian Lama, diantaranya serapah Daud pada Nabal. (1 Sam. 25, perhatikan ayat 22 yang persis sama dengan sumpah serapah orang Batak).
7). Nuh dan bukit Ararat
Ada beberapa etnik didunia ini yang mempunyai kisah banjir besar yang mirip dengan air bah dijaman Nuh. Tiap etnik berbeda alur ceritanya tetapi polanya serupa. Etnik Tapanuli juga punya kisah tentang air bah, tentu saja formatnya berbeda dengan kisah Alkitab. Apabila orang-orang yang sudah uzur ditanya tentang asal-usul suku Batak, mereka akan menceritakan mitos turun temurun yang mengisahkan kakek moyang orang Batak diyakini mapultak sian bulu di puncak bukit Pusuk Buhit.
Pusuk Buhit adalah sebuah gunung tunggal yang tertinggi di Tapanuli Utara, dipinggiran danau Toba. Pusuk Buhit sendiri artinya adalah puncak gunung. Pusuk Buhit tidak ditumbuhi pohon, jelasnya tidak ada bambu disana. Yang ada hanya tumbuhan perdu, ilalang, dan rumput gunung. Bambu - dari mana kakek moyang keluar - menurut nalar mendarat di puncak gunung itu dan mereka keluar dari dalamnya setelah bambunya meledak hancur. Mengapa ada bambu pada puncak Pusuk Buhit yang tandus dan terjal? Tentu saja karena genangan air yang mengapungkannya, yang tak lain adalah banjir besar. Dapat dipahami mengapa jalan cerita menjadi seperti itu, karena setelah ribuan tahun terpisah dari induk bangsanya, narasi jadi berbeda. Bahtera Nuh berubah menjadi sebentuk perahu bambu berbentuk pipa yang kedua ujungnya ditutup, dan Bukit Ararat berubah menjadi Pusuk Buhit.
8). Mangokal Holi atau Eksumasi (Pemindahan tulang belulang)
Jika Pemerintah mengubah fungsi lahan pekuburan, wajar jika tulang- belulang para almarhum/ah dipindahkan oleh pihak keluarga yang terkait. Alasan ini sangat praktis.
Bagi orang Tapanuli, penggalian tulang belulang (eksumasi) dari kerabat yang masih satu dalam garis silsilah dan dikuburkan didaerah lain adalah praktek yang sangat umum hingga sekarang. Sering alasannya hanya untuk kepuasan batin belaka walaupun biayanya sangat mahal karena termasuk dalam kategori perhelatan besar. Pada bangsa Israel kuno hal semacam adalah kebiasaan umum. Sejarah sekuler menuturkan bahwa tulang belulang Yusuf dibawa dari Mesir ketika bangsa ini keluar dari sana. Juga dalam kitab lain dalam Perjanjian Lama, sekelompok masyarakat berniat memindahkan tulang belulang dari satu pekuburan (walaupun kemudian dihalangi oleh seorang nabi).
9). Peratap/Ratapan
Adalah wajar bagi jika satu keluarga menangis disekeliling anggota keluarga / kerabat yang meninggal dan terbujur kaku. Mereka menangisi si mati, dan seseorang meratapinya. Meratap berbeda dengan menangis. Meratap dalam bahasa Tapanuli disebut mangandung. Mangandung ialah menangis sambil melantunkan bait-bait syair kematian dan syair kesedihan hati.
Karena sepenuhnya terikat dengan komponen syair-sayir maka mangandung ad 676 alah satu bentuk seni yang menuntut keahlian. Untuk memperoleh kepiawaian harus belajar. Bahasa yang digunakan sangat klasik, bukan bahasa sehari-hari. Setiap orang-tua yang pintar mangandung akan mendapat pujian dan sering diharapkan kehadirannya pada setiap ada kematian.
Di desa-desa, terutama di daerah leluhur - Tapanuli - tidak mengherankan kalau seseorang orang yang tidak ada hubungan keluarga dengan orang yang meninggal, bahkan tidak dikenal oleh masyarakat setempat, namun turut mangandung disisi mayat. Masyarakat mendukung hal seperti itu. Kata-kata yang dilantukan dalam irama tangisan sangat menyentuh kalbu. Tak jarang pihak keluarga dari si mati memberi pasinapuran (ang pao) kalau si peratap tersebut pintar, sekedar menunjukkan rasa terima kasih.
Peratap-peratap dari luar ini sebenarnya tidak menangisi kepergian si mati yang tidak dikenalnya itu. Alasannya untuk turut meratap adalah semata-mata mengeluarkan kesedihan akibat kematian keluarga dekatnya sendiri pada waktu yang lalu, dan juga yang lebih spesifik yaitu mengekspresikan seni mangandung itu.
Ini sangat jelas dari ungkapan pertama sebelum melanjutkan andung- andungnya :,,Da disungguli ho ma sidangolonhi tu sibokka nahinan" Sibokka nahinan adalah anggota keluarga sipangandung yang sudah meninggal sebelumnya. Selanjutnya dia akan lebih banyak berkisah tentang mendiang familinya itu.
Bagaimana dengan bangsa Israel? Dari sejarah diketahui bahwa ketika Yusuf (perdana menteri Mesir) meninggal, sanak keluarganya membayar para peratap untuk mangandung. Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkali-kali mencatat kata -kata ratapan, meratap, peratap. Kitab Ratapan yang ditulis oleh raja Salomo, dalam praktek Israel kuno adalah syair-syair yang dilantunkan sambil mangandung, kendati bukan pada acara kematian.
10). Hierarki pada tubuh
Dalam budaya Batak, kepala adalah anggota tubuh yang paling tinggi martabatnya. Menyentuh kepala seseorang dengan tidak disertai permintaan maaf yang sungguh-sungguh, bisa berakibat parah. Sebaliknya anggota tubuh yang paling rendah derajatnya ialah telapak kaki. Adalah penghinaan besar jika seseorang berkata kepada seseorang lain:,,Ditoru ni palak ni pathon do ho = Kau ada dibawah telapak kakiku ini", sambil mengangkat kaki memperlihatkan telapak kakinya pada seteru. Penghinaan seperti ini hanya dilontarkan oleh seseorang yang amarahnya sudah memuncak dan sudah siap berkelahi. Pada zaman dulu, dalam setiap pertemuan, telapak kaki selalu diusahakan tidak nampak ketika duduk bersila. Pada bangsa-bangsa Semitik tertentu di Timur Tengah, tradisi semacam ini masih tetap dijaga hingga sekarang karena memperlihatkan telapak kaki pada orang lain adalah pelanggaran etika yang berat, karena telapak kaki tetap dianggap anggota tubuh yang paling hina derajatnya.
11). Tangan kanan dan sisi kanan
Dalam budaya Tapanuli, sisi kanan dan tangan kanan berbeda tingkat kehormatannya dengan sisi kiri dan tangan kiri. Jangan sekali-kali berinteraksi dengan orang lain melalui tangan kiri jika tidak karena terpaksa. Itupun harus disertai ucapan maaf. Dalam Alkitab banyak tercatat aktivitas sisi `kanan' yang melambangkan penghormatan atau kehormatan.
Yusuf sang perdana menteri Mesir memprotes ayahnya Yakub yang menyilangkan tangannya ketika memberkati Manasye dan Efraim (baca Kejadian 48). Rasul Paulus dalam salah satu suratnya menyiratkan hierarki anggota tubuh ini. Juga baca Pengkhotbah 10:2, Mzm 16:8, Mat 25:33, 26:64 Mrk 14:62, Kis 7:55-56, 1Pet 3:22, dll.
12). Anak sulung
Dalam hierarki keluarga, posisi tertinggi diantara seluruh keturunan bapak/ibu ialah anak sulung. Ia selalu dikedepankan dalam memecahkan berbagai masalah, juga sebagai panutan bagi semua adik-adiknya. Jika ayah (sudah) meninggal, maka anak sulung yang sudah dewasa akan mengganti posisi sang ayah dalam hal tanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga seperti yang diungkapkan dalam umpasa : Pitu batu martindi-tindi, alai sada do sitaon na dokdok. Sitaon na dokdok itu adalah si anak sulung. Tanggung jawab itulah yang membuat dia besar, memberi karisma dan wibawa. Karisma dan wibawa, itulah profil yang melekat pada anak sulung.
Alkitab ditulis dengan bahasa manusia, bangsa Israel kuno. Deskripsi tentang anak sulung pada bangsa ini sama seperti yang ada pada suku Batak yang sekarang, sehingga the term of the firstborn (istilah anak sulung) banyak terdapat dalam kitab tersebut. (baca Kel 4:22, 34:20, 13:12 dan 15, Im 27:26, Bil 3:13, 8:17, Mzm 89:28, Yer 31:9, Hos 9:20, Rom 8:23, Luk 2:27, 11:16, 1Kor 15:20 dan 23, Kol 1:15 dan 18, Ibr 1:6, Yak 1:18, dll)
13). Gender
Hingga sekarang posisi perempuan dalam hubungan dengan pencatatan silsilah selamanya tidak disertakan karena perempuan dianggap milik orang lain, menjadi paniaran ni marga yang berbeda. Hal yang sama terjadi pada bangsa Israel kuno ; bangsa ini tidak memasukkan anak perempuan dalam silsilah keluarga. Ada banyak silsilah dalam Alkitab, tetapi nama perempuan tidak terdapat didalamnya kecuali jika muncul sebagai yang sangat penting seperti Rut dan Maria (ibu Yesus). Kalaupun nama Dina disebut juga dalam Alkitab, itu bukan karena posisinya yang penting tetapi hanya sebagai pelengkap nama- nama keturunan Yakub yang kemudian menurunkan seluruh bangsa Israel. Dalam Tradisi Israel, anak perempuan tidak dihitung sebagai bangsa, tetapi anak laki-laki, red.
13). Kemenyan BATAK TOBA
Ada cerita yang sangat dipercaya oleh masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Salah satu persembahan yang dibawa tiga majuz atau cendekiawan dari timur untuk bayi Yesus yang baru dilahirkan di Betlehem itu berasal dari Tanah Tapanuli. Persembahan itu berupa kemenyan, mendampingi dua persembahan lainnya, emas dan mur. Lewat cerita turun-temurun, masyarakat Tapanuli percaya kemenyan itu dibawa dari Pelabuhan Barus, yang dulu pernah menjadi pelabuhan besar, menuju Timur Tengah, hingga ke Betlehem. Cerita itu semakin bergulir mengingat sebagian besar penduduk Tapanuli beragama Kristen dan Katolik yang erat dengan cerita kelahiran Yesus Kristus. Kebenarannya memang perlu diteliti, tetapi setidaknya dari cerita itu bisa terlihat bahwa sampai sekarang pun getah harum bernama kemenyan, yang dalam bahasa Batak disebut haminjon, itu begitu erat dengan kehidupan orang Tapanuli. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara RE Nainggolan menjelaskan, kemenyan pernah sangat menyejahterakan masyarakat Tapanuli.
Dan, getah harum itu ikut pula membesarkan namanya. "Nenek saya pedagang kemenyan," tuturnya. Ia tahu persis, pada tahun 1936 neneknya sudah mempunyai mobil untuk mengangkut kemenyan dari Tapanuli ke Pelabuhan Sibolga. Saat itu harga satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Standar itu dipakai terus oleh petani dan pengepul di Tapanuli: Satu kilogram kemenyan sama dengan satu gram emas. Satu kilogram kemenyan juga setara satu kaleng (16 kilogram) beras. Selain cerita tentang persembahan dari timur untuk Nabi Isa itu, tak banyak orang tahu sejarah kemenyan di Tapanuli. Kebanyakan warga menyebutkannya sebagai tanaman ajaib yang sudah ada ratusan tahun dan menghidupi masyarakat Tapanuli.
14). Pemberian Nama Bayi yang Lahir Tujuh Hari
Di dalam tradisi Parmalim - Agama Leluhur Batak Kuno, setiap anak bayi yang lahir selama tujuh hari harus di bawa ke Pancur untuk Permandian dan sekaligus pemberian nama. Permandian bayi yang sudah tujuh hari itu diserahkan ke Imam Parmalim. Setelah itu diberi nama dengan diadakannya Pesta Martutu Aek.
Memang tidak ada sunat, tetapi beberapa suku Israel seperti Bene Menashe di India dan Suku Chiang Min pun melakukan hal yang sama. Karena apa? Karena mereka sudah melalui generasi ke generasi, asimilasi, masuknya unsur-unsur lokal dan sebagainya, seperti nama- nama dewa-dewi sesembahan lokal dimana mereka tinggal. Seperti itulah, tetapi identitas keaslian mereka sebagai keturunan Israel masih kelihatan. Seperti budaya, adat, Agama -Kepercayaan Monotheisme (meskipun masuknya paham lokal setempat), dan beberapa kebiasaan yang berbeda dengan suku - suku yang lainnya.
15). Monoteisme Hamalimon - Parmalim - Ugamo Malim
Hamalimon - Parmalim - Ugamo Malim, Agama Leluhur Bangso Batak Toba Parmalim, kaum minoritas yang tegar mempertahankan nilai leluhur batak. Kata Malim berasal dari bahasa Arab yang terdapat di kitab- kitab suci; yang berarti suci dan saleh dari asal kata Muallim. Dalam bahasa Arab Muallim merujuk kepada istilah orang suci yang menjadi pembimbing dan sokoguru. Parmalim diistilah Batak berkembang ke dalam pengertian; orang-orang saleh berpakaian sorban putih. Parmalim merupakan agama monotheis asli Bangso Batak Toba. Parmalim sudah ada sejak 497 Masehi atau 1450 tahun Batak. TUHAN menurut Hamalimon -Parmalim - Ugamo Malim Ugamo malim menyebut Tuhan adalah Mulajadi na Bolon (Awal Mula Yang Besar, red). Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak
bermula dan tidak berujung. Bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung. Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa yang menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.
Dalam Injil Perjanjian Lama, menceritakan Raja Salomo dikenal dengan Nabi Sulaiman, memerintahkan rakyatnya melakukan perdagangan dan membeli rempah-rempah hingga ke Ophir. Ophir patut diduga adalah Barus di Tapanuli. Perkiraan itu punya jejak spiritual berbentuk kepercayaan monotheisme. Misalnya Ugamo Parmalim yang menjadi agama asli etnis Batak, meyakini Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutan Ompu Mulajadi Na Bolon (Parmalim atau Ugamo Malim, pen).
Selain itu, sekelompok penyebar ajaran Kristen Nestorian dari Persia yakni Iran, yang menjejakkan kakinya di Barus. Kelompok itu diperkirakan datang sekira tahun 600an Masehi dan mendirikan gereja pertama di Desa Pancuran, Barus.
Tambahan: Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur'an, Surat Al-Anbiya' 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke "tanah yang Kami berkati atasnya" (al-ardha l-lati barak- Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke- 15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.
Secara "teologis" bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Pencipta langit dan bumi). Ini hal yang luar biasa uniknya. Tidak ada analisis yang dapat menerangkan itu jika tidak menghubungkannya dengan faham monoteisme Yudaisme bangsa Israel kuno yang terbawa melekat hingga sekarang, tidak lekang oleh kikisan kurun waktu ribuan tahun.
Dalam melaksanakan ibadah, Parmalim melaksanakan upacara (ritual) Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.
Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang "Parmalim" wajib mengikuti 7 aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan tersebut adalah :
1. Martutuaek (kelahiran)
2. Pasahat Tondi (kematian)
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan
Simarimbulubosi)
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)
Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang "Parmalim" harus menjunjung tinggi nilai - nilai kemanusiaan seperti menghormati dan mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya. Diluar hal tersebut, seorang "Parmalim" juga diharamkan memakan daging babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta darah. Manusia yang mematuhi dan mengikuti ajaran Tuhan dan melakukannya dalam kehidupannya, memiliki pengharapan kelak ia akan mendapat kehidupan roh suci nan kekal.-Kata bijak Ugamo Malim Secara implisit, inilah yang menjadi ajaran suci keyakinan Ugamo Malim atau lebih dikenal dengan Parmalim di Tanah Batak sejak turun temurun, seperti yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos selaku Ulu Punguan (pemimpin spiritual) Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Menurut beberapa pandangan ilmuwan sosial, sebenarnya Ugamo Malim layak menjadi sebuah agama resmi. Alasannya ialah dalam ajaran aliran ini juga terdapat nilai-nilai religius yang bertujuan menata pola kehidupan manusia menuju keharmonisan, baik sesama maupun kepada Pencipta.
Dan secara ilmu sosial tujuan ini mengandung nilai luhur. Bahkan, ajaran Parmalim menuntut manusia agar hidup dalam kesucian," jelasnya kemudian menerangkan secara detail asal-muasal kata Parmalim yang berasal dari kata "malim". Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Oppu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan pencipta langit dan bumi). "Maka, Parmalim dengan demikian merupakan orang-orang mengutamakan kesucian dalam hidupnya," jelas Marnangkok. Yang kami puja tak lain adalah Oppu Mula Jadi Na Bolon bukan"begu" (roh jahat)," katanya. "Dan inilah yang menjadi bias negatif dari masyarakat terhadap Parmalim." Marnangkok kemudian menjelaskan, Oppu Mula Jadi Nabolon adalah Tuhan pencipta alam semesta yang tak berwujud, sehingga Ia mengutus sewujud manusia sebagai perantaraannya (parhiteon), yakni Raja Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi merupakan julukan terhadap kesucian (hamalimon) serta jasa-jasanya yang hingga akhir hidupnya tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Nasiak Bagi sendiri berarti ditakdirkan untuk hidup menderita. Ia bukan raja yang kaya raya tetapi hidup sama miskin seperti rakyatnya.
Dengan demikian, Parmalim meyakini bahwa Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan mereka (Bangsa Batak) kepada Debata. Ugamo Malim diyakini sebagian orang sudah ada sebelum ajaran Kristen dan Islam masuk ke daerah itu. Hidup dalam kepasrahan. Barangkali itu jugalah intisari dari pernyataan kata bijak Parmalim yang mengatakan: "Baen aha diakkui sude bangso on hita, ia anggo so diakkui Debata pangalahon ta." (Tidakklah begitu berarti pengakuan semua bangsa terhadap kita, dibandingkan pengakuan Tuhan terhadap perilaku kita).
Catatan: Sisingamangaraja, adalah Singa yang merajai. Para Datu atau Tua-Tua Batak Toba, menjuluki Singa bagi Hukum dan Singa bagi para raja. Padahal Singa tidak ada di Tapanuli, yang ada hanyalah Harimau. Kalau dilihat dari makna simbolis alkitab, hanya Suku Yehuda yang dijuluki Singa Yehudah.
Seperti apa yang kemudian dijelaskan Marnangkok, Pemimpin Parmalim, " Untuk apa pengakuan dari setiap bangsa jika Tuhan sendiri tidak mengakui perbuatan kita di dunia ini?" Nampaknya, perjuangan Ugamo Parmalim sudah berujung pada kepasrahan. Dalam kepasrahan ini tentu saja masih ada harapan. Tapi, harapan itu bukanlah berasal dari dunia, melainkan dari Oppu Mula Jadi Nabolon. Dalam harapan itu, ada pula ketaatan untuk selalu mempertahankan hidup suci. Selanjutnya ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Batak, "Berilah kepada kami penghiburan yang menangis ini, bawalah kami dari kegelapan dunia ini dan berilah kejernihan dalam pikiran kami." Mereka yakin Debata hanya akan memberkati orang yang menangis. Nah, dalam kepasrahan yang berpengharapan inilah mereka hidup. Dalam keterasingan itu juga mereka menyerahkan hidupnya pada "kemaliman" (kesucian). "Parmalim adalah mereka yang menangis dan meratap," katanya. Dalam ritual Ugamo Parmalim sendiri, terdapat beberapa aturan dan larangan. Selain mengikuti 5 butir Patik ni Ugamo Malim (5 Titah Ugamo Malim), juga terdapat berbagai kewajiban lainnya seperti Marari Sabtu atau ibadah rutin yang diadakan setiap Sabtu. Dalam menjelang hari Sabtu, pengikut Parmalim dilarang bekerja atau melakukan kegiatan apapun. Atau melakukan ucapan syukur dilakukan umat Parmalim setiap hari Sabtu.
Marnakkok Naipospos, pemimpin Parmalim mengatakan: "Samisara itu hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu, supaya berlaku untuk selamanya.
Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu." Kewajiban lain di antaranya adalah Martutu Aek, yakni pemandian bayi yang diadakan sebulan setelah kelahiran, Pasahat Tondi yaitu ritual sebulan setelah kematian, Pardebataan, Mangan na Paet dan Pangkaroan Hatutubu ni Tuhan.
Ada pun larangan yang hingga kini masih tetap dipertahankan di antaranya adalah larangan untuk memakan daging babi dan darah hewan seperti yang lazim bagi umat Kristen. Memakan daging babi atau darah dianggap tidak malim (suci) di hadapan Debata. Padahal dalam ajaran
Parmalim sendiri dikatakan, jika ingin menghaturkan pujian kepada Debata, manusia terlebih dahulu harus suci. Ketika menghaturkan pelean (persembahan) kesucian juga dituntut agar Debata dan manusia dapat bersatu. Selanjutnya, Raja Sisingamangaraja memiliki keturunan hingga 12 keturunan. Itu pun secara roh.
Inilah yang kemudian menjadi acuan pada acara atau ritual-ritual besar Ugamo Parmalim yang diadakan rutin setiap Sabtu dan setiap tahunnya. Ritual-ritual besar Parmalim itu seperti Parningotan Hatutubu ni Tuhan (Sipaha Sada) dan Pameleon Bolon (Sipaha Lima), yang diadakan pertama pada bulan Maret dan yang kedua bulan Juli. Yang kedua diadakan secara besar-besaran pada acara ini para Parmalim menyembelih kurban kerbau atau lembu. "Ini merupakan tanda syukur kami kepada Debata yang telah memberikan kehidupan," kata Marnangkok.
Catatan: Dalam Kitab Paramalim, yakni Tumbang Holing, terdapat kisah manusia pertama, Adam dan Hawa termasuk taman eden dimana hawa digoda si ular. Hal itu dalam istilah bahasa Batak Toba. Parmalim itu bisa jadi merupakan ajaran usianya sudah ribuan tahun, jauh sebelum Islam dan Kristen masuk dan mempengaruhi keyakinan etnis Batak. Demikian pula dengan simbol dan pakaian kebesaran kerajaan Batak Toba dan Parmalim, agama leluhur Bangso Batak Toba, cenderung mendekati simbol-simbol agama Samawi, misalnya, tongkat, pedang, sorban berwarna putih serta stempel kerajaan. Jika dihubungkan cerita tentang penemuan mummy Mesir yang dibalsem dengan rempah- rempah pengawet di antaranya kanfer (kapur barus) serta kisah tentang Raja (Nabi) Sulaiman/ Salomo membutuhkan rempah-rempah dari Ophir (Barus) di Tapanuli, diperkirakan jejak agama monotheisme Israel terserap dan kemudian mengakar dalam keyakinan Parmalim - Hamlimon - Ugamo Malim, agama Bangso Batak Toba.
Bahkan, Istilah Anak Ni Raja, dalam bahasa BATAK, yang berarti Anak Raja mengacu kepada Si Raja Batak sebagai keturunanRaja Shalomo (Yang terkenal Kebijaksanannya atau Berhikmat), anak dari Raja Israel yang terkenal, Raja Daud (Terkenal Kepahlawanannya dan Ketakwaannya).

Kesimpulan: Ada seseorang bertanya kepada Prof.Claude Mariottini, tentang keberadaan Batak toba dengan menunjukkan bahwa ada kesamaan Religion is Pamalim dengan agama  Israel kuno. sbb

Shalom
I ever heard that there is a Tribe in Sumatera, Indonesia, namelay the Batak Toba People, they have a religion is similarly with Ancient Israelite Religion. Their Religion is PARMALIM or Ugamo Malim. This religion means Holy Faith.
They believe in one God, Mulajadi Nabolon, The First of the Migthy or the God Almighty. They always worship on Saturday (Samisara), and they will not do any activities because it's forbbiden, they sacrifice animals for redemption and Blessings. They have a priesthood with Altar, they do the sacrifice outside of the House of Worship, they sacrifice goat, and cows.
On the sevent day, when every boy-child was born, the child will bring to the priest to bath with water and name him.
They also married with their realtives, if the elder died, the wife of the elder sholud marry with the brother of the elder, and so on.
But many things in Ancinet Isralite Customs in Batak Toba Customs too. In Batak Toba Land, there are much incenses, they are the best incenses for ritual in the holy temple.
Barus is the Great Harbour in Tapanuli, The Northen Sumatera. In the past, may people from Middle Eastern including the Nestorian Christians came to Barus.
So if you want to search and investigate you may learn them.
Shalom

At March 07, 2008 10:05 AM, Anonymous Anonymous said...

The Batak Toba People with their religion Parmalim has a rule, namelay, they will not eat pork (pig), Dog, Blood, and the other animals, because it's not holy.
They believe those things are not suggested and forbidden before God. they have a clothes with fringes in their customs, today the follower of the Parmalim just over 1500 till 7000.
In the religion, They call God as Father of Batak Toba Tribe.
Even though many Batak Toba People are Christians, many Batak Christian hated their Forefather's religion because they believe Jesus more than their legacy.
Today, many Batak Toba People became the best Lawyers, Soldiers, Polices, Teachers or Lectures, Officials in The Government and etc...

At March 07, 2008 12:58 PM, Blogger Dr. Claude Mariottini said...
 
Dear Friend,
Thank you for this information on the Batak Toba people. I did not know about their existence. I will try to find out more about them. Your information is very interesting.
Thank you for visiting my blog.
Claude Mariottini

(shalom)
Aku pernah mendengar bahwa ada suku di Sumatera, Indonesia, Batak Toba namelay People, mereka memiliki agama yang sama dengan Agama Israel Kuno. Agama mereka Parmalim atau Ugamo Malim. Agama ini berarti Iman Kudus.
Mereka percaya pada satu Tuhan, Mulajadi Nabolon, Pertama dari Migthy atau Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka selalu menyembah pada hari Sabtu (Samisara), dan mereka tidak akan melakukan kegiatan apapun karena itu forbbiden, mereka mengorbankan binatang untuk penebusan dan Berkah. Mereka memiliki imamat dengan Altar, mereka melakukan pengorbanan luar House of Worship, mereka mengorbankan kambing, dan sapi.
Sevent Pada hari, ketika setiap anak-anak lahir, anak akan membawa kepada imam untuk mandi dengan air dan nama dia.
Mereka juga menikah dengan realtives, jika yang lebih tua meninggal, istri yang lebih tua sholud menikah dengan saudara yang lebih tua, dan sebagainya.
Tapi banyak hal dalam Ancinet Isralite di Batak Toba Bea Cukai Bea Cukai juga. Di Tanah Batak Toba, terdapat banyak kemenyan, mereka adalah yang terbaik untuk ritual kemenyan di bait suci.
Barus adalah Great Harbour di Tapanuli, The Northern Sumatera. Di masa lalu, mungkin orang-orang dari Timur Tengah termasuk orang-orang Kristen Nestorian datang ke Barus.
Jadi jika Anda ingin untuk mencari dan menyelidiki Anda dapat belajar mereka.
Shalom

clip_image001 Orang Batak Toba Parmalim dengan agama mereka memiliki aturan, namelay, mereka tidak akan makan daging babi (babi), Anjing, Darah, dan binatang lain, karena itu tidak suci.
    Mereka percaya hal-hal yang tidak disarankan dan dilarang di hadapan Allah. mereka memiliki pakaian dengan pinggiran dalam kebiasaan mereka, hari ini pengikut Parmalim saja lebih dari 1500 sampai 7000.
    Dalam agama, Mereka menyebut Allah sebagai Bapa dari suku Batak Toba.
    Bahkan walaupun banyak Batak Toba Orang-orang Kristen, banyak orang Kristen Batak membenci agama nenek moyang mereka karena mereka percaya bahwa Yesus lebih dari warisan mereka.
    Saat ini, banyak Orang Batak Toba Pengacara menjadi yang terbaik, Prajurit, kepolisian, Guru atau Kuliah, Para pejabat di Pemerintah dan lain-lain ..


Jawaban  Prof Claude Mariottini sbb:

Maret 07, 2008 12:58, Blogger Dr Claude Mariottini mengatakan ...
    Dear Friend,
    Terima kasih atas informasi ini pada orang-orang Batak Toba. Aku tidak tahu tentang keberadaan mereka. Saya akan mencoba untuk mencari tahu lebih banyak tentang mereka. Informasi Anda sangat menarik.
    Terima kasih telah mengunjungi blog saya.
    Claude Mariottini )

Benarkah Batak toba keturunan israel yang hilang ? (bag-1)

Saya mencoba merentang benang terkusutkan, daripada suatu saat tambah susah diuraikan, dan mencoba mengurainya dengan rasa cinta dan bangga saya kepada budaya tradisi suku saya yakni Batak toba. tanpa ada maksud menyalahkan dan membenarkannya, namun hanya maksud mengabarkan bahwa ada ulasan seorang tokoh yang bernama:

image

Claude Mariottini, seorang profesor Perjanjian Lama di Northern Baptist Seminary sejak tahun 1988. Dan lahir di Brasil. Llulus dari California Baptist College, Golden Gate Baptist Seminary, The Southern Baptist Seminary, dan telah melakukan kerja lulusan tambahan di Graduate Theological Union. Dia gembala di gereja-gereja di California, Kentucky, Missouri dan Illinois. Beliau telah menerbitkan lebih dari 150 artikel dan resensi buku dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan Rusia. Karya-karya akademisnya telah diterbitkan dalam The Anchor Bible Dictionary, The Mercer Dictionary of the Bible, The Holman Bible Dictionary, Alkitab Yahudi Quarterly, Perspektif dalam studi Agama, Alkitab Illustrator, Abstracts Perjanjian Lama, Catholic Biblical Quarterly, The Journal of Biblical Literature, dan Alkitab. Adapun tulisan beliau tentang Suku Israel yang hilang adalah sebagai berikut: a

Found: A Lost Tribe of Israel

(Found: Suku yang Hilang Israe)

A few weeks ago, a group of people who live in Mizoram, a state located in the north-east section of India, bordering Burma and Bangladesh, went through a process of conversion and because Jews. The process of conversion included a ritual bath known as the Mikvah, circumcision for the men, and the recitation of the Shema: “Hear, O Israel: the Lord our God, the Lord is one” (Deuteronomy 6:4). The population of Mizoram is about 800,000 people. Most of them are Christians, but there are 5,000-8,000 people who claim to be Jews. According to their claim, they are the descendants of the lost tribe of Manasseh. They call themselves Bnei Menashe or “the Children of Manasseh.” These Mizo Jews say their ancestors were deported by the Assyrians at the time of the conquest of the Northern Kingdom

(Ada sekelompok orang yang tinggal di Mizoram, sebuah wilayah yang terletak di bagian timur laut India, berbatasan dengan Burma dan Banglades, pergi melalui proses konversi dan karena orang-orang Yahudi. Proses konversi termasuk mandi ritual yang dikenal sebagai Mikvah, sunat bagi laki-laki, dan Membaca Shema: "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan adalah satu" (Ulangan 6:4). Mizoram jumlah penduduk sekitar 800.000 orang. Kebanyakan dari mereka adalah Kristen, tetapi ada 5,000-8,000 orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai orang Yahudi. Menurut klaim mereka, mereka adalah keturunan dari suku Manasye yang hilang. Mereka menyebut diri Bnei Menashe atau "Anak-anak Manasye." Orang-orang Yahudi berkata Mizo nenek moyang mereka dideportasi oleh orang-orang Asyur pada saat penaklukan Kerajaan Utara.)

The deportation of the ten tribes that formed the Northern Kingdom of Israel is a fact. When Tiglath-pileser III became king of Assyria in 745 B. C., he established a policy of permanent conquest. Assyria reinforced this policy with brutal reprisal in case of revolts. The king of Assyria carried out the policy of total conquest by means of violence, pain, and suffering. At the beginning of his reign, Tiglath-pileser reintroduced the policy of mass deportation. The policy of mass deportation would force the conquered people to move in large numbers to other parts of the empire. The aim of deportation was to prevent the possibility of internal revolt by the vanquished people. In order to confront the threat posed by the imperialistic dreams of Tiglath-pileser, the Northern Kingdom of Israel and the Arameans (Syria) formed an alliance to fight against the Assyrians. Ahaz, king of Judah, was invited to join the coalition, but he refused. Because of Ahaz’s refusal to join the alliance to fight against Assyria, the joint armies of Israel and Syria besieged Jerusalem with the intent of deposing Ahaz and placing on the throne of Judah another person who would be willing to fight the Assyrians. Ahaz, in panic, sent messengers to Tiglath-pileser asking for military help. He paid a tribute to Assyria by using the gold and silver from the temple and from the royal treasury, and asked for military assistance. In response to Ahaz's invitation, Tiglath-pileser came to Palestine to help Judah.

(Deportasi dari sepuluh suku yang membentuk Kerajaan Utara Israel adalah sebuah fakta. Ketika Tiglath-pileser III menjadi raja Asyur pada 745 SM, ia menetapkan kebijakan penaklukan permanen. Asyur kebijakan ini diperkuat dengan pembalasan yang brutal dalam kasus pemberontakan. Raja Asyur melaksanakan kebijakan dari total penaklukan dengan cara kekerasan, kesakitan, dan penderitaan. Pada awal masa pemerintahannya, Tiglath-pileser memperkenalkan kembali kebijakan deportasi massal. Kebijakan deportasi massal akan memaksa orang-orang yang ditaklukkan untuk bergerak dalam jumlah besar ke bagian lain dari kekaisaran. Tujuan deportasi adalah untuk mencegah kemungkinan pemberontakan internal oleh orang-orang yang kalah. Dalam rangka menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh mimpi imperialistik Tiglath-pileser, Kerajaan Utara Israel dan Arameans (Suriah) membentuk aliansi untuk memerangi orang-orang Asyur. Ahas, raja Yehuda, diundang untuk bergabung dalam koalisi, tapi ia menolak.

Karena Ahas menolak untuk bergabung dengan aliansi untuk melawan Asyur, pasukan gabungan Israel dan Suriah mengepung Yerusalem dengan maksud memecat Ahas dan menempatkan di atas takhta Yehuda orang lain yang akan bersedia untuk melawan Asyur. Ahas, panik, mengirim utusan ke Tiglath-pileser meminta bantuan militer. Dia membayar upeti kepada Asyur dengan menggunakan emas dan perak dari Bait Allah dan dari perbendaharaan kerajaan, dan meminta bantuan militer. Sebagai tanggapan atas undangan Ahas, Tiglath-pileser datang ke Palestina untuk membantu Yehuda.)

image

Tiglath-pileser invaded Syria, killed Rezin, king of the Arameans, and deported the people of Syria to Kir (2 Kings 16:8-9). Tiglath-pileser also conquered several cities in Galilee and Naphtali, deporting some of the people to Assyria. The Bible says: “In the days of King Pekah of Israel, King Tiglath-pileser of Assyria came and captured Ijon, Abel-beth-maacah, Janoah, Kedesh, Hazor, Gilead, and Galilee, all the land of Naphtali; and he carried the people captive to Assyria” ( 2 Kings 15:29). As for the tribe of Manasseh, the Bible says: “So the God of Israel stirred up the spirit of Pul king of Assyria (that is, Tiglath-Pileser king of Assyria), who took the Reubenites, the Gadites and the half-tribe of Manasseh into exile. He took them to Halah, Habor, Hara and the river of Gozan, where they are to this day” (1 Chronicle 5:26). Several years after the death of his father, Shalmaneser V, the son of Tiglath-pileser conquered all the cities of the Northern Kingdom. He then besieged Samaria, the capital of the Northern Kingdom, for three years. Just before Samaria fell to Assyria, Shalmaneser V was killed in battle. With the death of Shalmaneser, Sargon II, his brother, became king of Assyria. Sargon finished the conquest of Samaria in 722 B.C. and deported 27,290 inhabitants to other parts of the Assyrian empire. The Bible says: “In the ninth year of Hoshea the king of Assyria captured Samaria; he carried the Israelites away to Assyria. He placed them in Halah, on the Habor, the river of Gozan, and in the cities of the Medes” (2 Kings 17:6).

(Tiglath-pileser menyerang Suriah, membunuh Rezin, raja Arameans, dan dideportasi rakyat Suriah untuk Kir (2 Raja-raja 16:8-9). Tiglath-pileser juga menguasai beberapa kota di Galilea dan Naftali, mendeportasi beberapa orang untuk Asyur. Alkitab mengatakan: "Pada zaman Raja Pekah dari Israel, Tiglath-pileser Raja Asyur datang dan menangkap ijon, Abel-beth-maacah, Janoah, Kedesh, Hazor, Gilead dan Galilea, seluruh tanah Naftali, dan ia membawa orang-orang tawanan ke Asyur "(2 Raja-raja 15:29). Sedangkan suku Manasye, Alkitab mengatakan: "Jadi, Allah Israel menimbulkan semangat Pul raja Asyur (yaitu, Tiglath-Pileser raja Asyur), yang mengambil Ruben, yang Gad serta separuh suku Manasye ke pengasingan. Dia membawa mereka ke Halah, Habor, Hara dan sungai Gozan, di mana mereka sampai hari ini "(1 Chronicle 5:26). Beberapa tahun setelah kematian ayahnya, Shalmaneser V, putra Tiglath-pileser menaklukkan semua kota-kota Kerajaan Utara. Dia kemudian mengepung Samaria, ibukota Kerajaan Utara, selama tiga tahun. Tepat sebelum Samaria jatuh ke Asyur, Shalmaneser V tewas dalam pertempuran. Dengan kematian Shalmaneser, Sargon II, saudaranya, menjadi raja Asyur. Sargon selesai penaklukan Samaria pada 722 SM 27.290 penduduk dan dideportasi ke bagian lain dari kekaisaran Asyur. Alkitab mengatakan: "Pada tahun kesembilan Hoshea raja Asyur merebut Samaria; ia membawa orang Israel pergi ke Asyur. Dia menempatkan mereka di Halah, di Habor, sungai Gozan, dan di kota-kota di Medes "(2 Raja-raja 17:6).

After the people of Israel arrived in Assyria, families and clans were scattered throughout the empire and from this point on they moved from place to place and apparently lost contact with each other through assimilation into Assyrian culture. The disappearance of these deported people gave rise to the legend of the Lost Ten Tribes of Israel. The concept of the “Lost Ten Tribes of Israel” is very controversial. The basic idea refers to the disappearance of the ten tribes of the Northern Kingdom of Israel. The people who lived in the cities of Israel and the inhabitants of Samaria, its capital, were deported to different parts of the Assyrian empire and blended in with other people and cultures present in Assyrian society and then disappeared from the pages of history. Over the years, many groups have made claims that they are the remnants of the Lost Ten Tribes of Israel. Among these are some tribal people of Afghanistan, the Jews of the Sahara, and some people in China, Egypt, and Iran. In this country, Herbert W. Armstrong, the founder of the Radio Church of God, believed that the Anglo-Saxons, the Scandinavians, and the Germanic peoples are the living descendants of the Lost Ten Tribes of Israel. The Mormon Church, also known as the Church of Jesus Christ of Latter-day Saints, believes that the restoration of the Ten Lost Tribes will be in North America. The 10th article of the Mormon’s Articles of Faith states: “We believe in the literal gathering of Israel and in the restoration of the Ten Tribes; that Zion (the New Jerusalem) will be built upon this continent [the Americas].”

(Setelah bangsa Israel tiba di Asyur, keluarga dan marga-marga yang tersebar di seluruh kerajaan dan dari titik ini pada mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain dan tampaknya kehilangan kontak dengan satu sama lain melalui asimilasi ke budaya Asiria. Lenyapnya orang-orang dideportasi ini melahirkan legenda Hilang Sepuluh Suku Israel.

Konsep "Hilang Sepuluh Suku Israel" sangat kontroversial. Ide dasarnya mengacu pada hilangnya sepuluh suku dari Kerajaan Utara Israel. Orang-orang yang tinggal di kota-kota Israel dan penduduk Samaria, ibukotanya, dideportasi ke berbagai bagian dari kekaisaran Asiria dan membaur dengan orang lain dan budaya yang ada di masyarakat Asiria dan kemudian menghilang dari halaman sejarah. Selama bertahun-tahun, banyak kelompok telah membuat klaim bahwa mereka adalah sisa-sisa Hilang Sepuluh Suku Israel. Di antaranya adalah beberapa suku rakyat Afghanistan, orang-orang Yahudi dari Gurun Sahara, dan beberapa orang di Cina, Mesir, dan Iran. Di negeri ini, Herbert W. Armstrong, pendiri Radio Gereja Allah, percaya bahwa Anglo-Saxon, Skandinavia, dan bangsa-bangsa Jermanik adalah keturunan hidup Orang Hilang Sepuluh Suku Israel. Gereja Mormon, yang juga dikenal sebagai Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, percaya bahwa pemulihan Sepuluh suku akan hilang di Amerika Utara. Pasal 10 Mormon's Articles of Faith menyatakan: "Kami percaya literal pengumpulan Israel dan dalam pemulihan Sepuluh suku; bahwa Sion (Yerusalem Baru) akan dibangun di atas benua ini [Amerika].")

Are the Mizo Jews the descendants of the lost tribe of Manasseh? Jewish scholars are divided over the claims of the Bnei Menashe. A report by an anthropologist claiming that there are similarities between the rituals of the Jewish people prescribed in Leviticus and the cultic practices of the Mizo Jews has provided a ray of hope for those who claim that the Mizo Jews are one of the Lost Ten Tribes of Israel. Genetic studies have not demonstrated a link between the Mizo Jews and the Jews of Israel. Both the Mitochondrial DNA, passed from mother to child, and the Y-chromosomal Aaron, the supposed chromosome that all descendants of Aaron should share, have not established an ethnic relationship between the two groups. As for the claims of the Mizo Jews, the decision has been made. The Chief Rabbinate of Israel has declared that the people who live in Mizoram and claim to be descendants of the tribe of Manasseh are indeed the lost tribe of Manasseh. The rabbinical court has given its blessing to the claims of the Mizo Jews. The process of conversion is complete and now, under the laws of return, these new Jews will soon immigrate to Israel and, for the first time in 3,000 years, enjoy the blessing of living in the Promised Land. The lost tribe of Manasseh has been found. Or so they say! Claude Mariottini Professor of Old Testament Northern Baptist Seminary

image

(Apakah orang Yahudi Mizo keturunan dari suku Manasye yang hilang? Sarjana Yahudi dibagi atas klaim dari Bnei Menashe. Sebuah laporan oleh seorang antropolog mengklaim bahwa ada kesamaan antara ritual orang-orang Yahudi yang ditetapkan dalam Imamat dan praktek-praktek pemujaan orang-orang Yahudi Mizo telah memberikan secercah harapan bagi mereka yang menyatakan bahwa orang Yahudi Mizo adalah salah satu dari Sepuluh Suku Hilang Israel. Penelitian genetik belum menunjukkan hubungan antara Mizo orang Yahudi dan orang-orang Yahudi Israel. Baik DNA mitokondria, lulus dari ibu ke anak, dan Y-kromosom Harun, seharusnya kromosom bahwa semua keturunan Harun harus berbagi, belum membuat hubungan etnis antara dua kelompok. Adapun klaim orang Yahudi Mizo, keputusan telah dibuat. Kepala Kerabian Israel telah menyatakan bahwa orang-orang yang tinggal di Mizoram dan mengklaim sebagai keturunan dari suku Manasye yang hilang memang suku Manasye. Para rabbi pengadilan telah memberikan berkat kepada klaim Yahudi Mizo. Proses konversi selesai dan sekarang, di bawah hukum kembali, orang-orang Yahudi baru ini akan segera berimigrasi ke Israel dan, untuk pertama kalinya pada 3.000 tahun, menikmati berkat yang tinggal di Tanah yang Dijanjikan. Hilang suku Manasye telah ditemukan. Atau begitu mereka katakan! Claude Mariottini Profesor Perjanjian Lama Northern Baptist Seminary)

Dibawah ini akan kita paparkan ulasan dan uraian tentang Orang Batak toba adalah suku Israel yang hilang, yang belakangan ini cukup banyak blog mengutipnya, dari kenyataan ini dapat kita yakini bahwa cukup intusias masyarakat Batak ingin mengetahui isi paparan ini.

Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang

image

Batak Toba, Keturunan Israel Yang Hilang Bangsa Israel kuno terdiri dari 12 suku. Setelah raja Salomo wafat, negara Israel pecah menjadi dua bagian. Bagian Selatan terdiri dari dua suku yaitu Yehuda dan Benjamin yang kemudian dikenal dengan nama Yehuda, atau dikenal dengan nama Yahudi. Kerajaan Selatan ini disebut Yehudah, ibukotanya Yerusalem, dan daerahnya dinamai Yudea. Bagian utara terdiri dari 10 suku, disebut sebagai Kerajaan Israel. Dalam perjalanan sejarah, 10 suku tersebut kehilangan identitas kesukuan mereka. Kerajaan utara Israel tidak lama bertahan sebagai sebuah negara dan hilang dari sejarah. Konon ketika penaklukan bangsa Assyria, banyak orang Kerajaan Utara Israel yang ditawan dan dibawa ke sebelah selatan laut Hitam sebagai budak. Sebagian lagi lari meninggalkan asalnya untuk menghindari perbudakan. Sementara itu Kerajaan Yehudah tetap exist hingga kedatangan bangsa Romawi. Setelah pemusnahan Yerusalem pada tahun 70 oleh bala tentara Romawi yang dipimpin oleh jenderal Titus, orang-orang Yehudah pun banyak yang meninggalkan negerinya dan menetap di negara lain, terserak diseluruh dunia. Jauh sebelum itu, ketika masa pembuangan ke Babilon berakhir dan orang-orang Yehudah atau disebut Yahudi diijinkan kembali ke negerinya, dan sepuluh suku Israel dari Kerajaan utara memilih tidak pulang tetapi meneruskan petualangan kearah Timur. Demikian juga dengan mereka yang diperbudak di selatan laut Hitam, setelah masa perbudakan selesai, tidak diketahui kemana mereka pergi melanjutkan hidup.

Thursday, February 11, 2010

Mistery Sisingamangaraja XII

Surat Sisingamangaraja ke Hatorusan

clip_image002 clip_image004

Surat menyurat antara dua kerajaan Batak, yakni Kerajaan Sisingamangaraja (Ada 12 Dinasti) dengan Kerajaan Batak lainnya, yakni Kerajaan Maritim Batak, yakni Kerajaan Hatorusan sering berlangsung sejak dahulu kala.
Kedua kerajaan ini memadukan kekhasan filosofi dan kekayaan kebudayaan batak. Dinasti Hatorusan dengan pendirinya Raja Uti dianggap sebagai tokoh spiritual dalam agama Sisingamaraja, Parmalim.
Di Barus sendiri, terdapat dua kerajaan Batak yang saling mendukung satu sama lainnya. Yang pertama, Kesultanan Dinasti Pardosi yang menjadi penguasa di Barus Hulu dan Kesultanan Dinasti Hatorusan (Pasaribu) yang menjadi penguasa di Hilir.
Sebuah surat, yang pernah terekam, dikirim oleh pihak dinasti SM Raja ke dinasti Hatorusan (Tuanku di Ilir) sebagai sebuah protes mengenai kedekatan pihak Hatorusan dengan pihak Belanda (Eropa) yang saat itu diyakini akan membawa malapetaka. Sebuah keyakinan yang terwujud dengan penjajahan Belanda di tanah Batak.
Gambar di atas merupakan, stempel kerajaan di atas surat yang dikirim pihak Sisingamangaraja ke Hatorusan. Uli Kozok menuliskannya dalam tulisannya: The Seals of The Last Sisingamangaraja. Surat tersebut dikirim pada tahun 1887.
Untuk lebih lengkapnya surat tersebut dapat di lihat di : Perpustakaan Nasional RI, di Jakarta, No. Vt. 158b.
Stempel yang sama juga pernah dikirimkan pihak Belanda di Padang Panjang. Dimana Sisingamangaraja mengumumkan bahwa dia sudah mengirim utusannya ke pihak Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Surat tersebut pernah dicetak kembali dan diterjemahkan dalam Lumbantobing (1967: 103)

Keristen, Parmalim atau Islam Sisingamangaraja XII

 

clip_image006

Selama ini banyak kontroversi yang muncul di masyarakat tentang agama yang dianut Sisingamangaraja XII.Ada yang mengatakan beragama Kristen, Islam, bahkan tidak sedikit yang menyebut beragama Parmalin.

Menurut sebagian orang, Parmalin merupakan agama aslinya orang Batak Menurut peneliti sejarah dari University of Hawaii, Minoa, Amerika Prof Uli Kozok, Raja Sisingamangaraja XII bukan beragama Islam, Kristen, maupun Parmalin, melainkan beragama Batak asli. “Dia bukan Kristen, Islam, atau Parmalin. Agama aslinya orang-orang Batak ada khusus, bukan Parmalin.

Kalau Parmalin campuran Islam dan Kristen”, papar Uli di Medan kemarin. Ketika agama Parmalin berkembang di Tanah Batak, Sisingamangaraja XII sendiri sudah berada di Dairi dalam pengungsian menghindari serbuan-serbuan tentara Belanda. “Jadi agama Sisingamangaraja XII adalah Batak asli yang usianya jauh lebih tua dari agama Parmalin”, bebernya.

Pada bagian lain peneliti senior ini menjelaskan, dalam melakukan komunikasi dengan pihak luar melalui surat, Sisingamangaraja XII ternyata menggunakan tiga jenis stempel berbeda. Hal itu diketahui dari cap yang dibubuhkan pada surat-suratnya yang ditujukan ke Pemerintah Belanda maupun Zending Kristen IL Nomensen. “Sisingamangaraja XII telah melakukan tiga kali percobaan dalam pembuatan stempel untuk berhubungan dengan pihak lain. Stempel yang ketiga bentuknya lebih baik dan sempurna dari dua stempel sebelumnya,” kata Uli Kozok. Ada empat surat Sisingamangaraja XII yang saat ini sedang dia teliti, tiga surat ditujukan kepada Zending Kristen IL Nomensen dan satu surat ditujukan kepada Pemerintah Hindia Belanda.

IL Nomensen sebenarnya sangat tidak suka terhadap Sisingamangaraja XII karena sangat menentang kehadirannya di tanah Batak. Bahkan IL Nomensen pernah mengatakan musuh abadi Pemerintah Belanda dan Zending Kristen adalah Sisingamangaraja XII. “Nommensen pula yang memanggil tentara Belanda agar masuk ke tanah Batak dengan menggunakan pasukan yang terdiri atas orangorang Jawa, Manado, dan Maluku.

Saat ini keempat surat-surat asli Sisingamangaraja XII tersebut masih tersimpan dengan cukup baik di Wuppertal Jerman,”ujarnya. Justru paling menarik di stempel dan isi surat itu, kata Uli, Sisingamangaraja XII tidak menggunakan aksara Batak Toba, sebagai daerah asalnya. Namun,sudah menggunakan campuran aksara Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu, dan huruf kawi. Itu membuktikan campuran budaya sudah masuk pada masa itu. Selain itu, Sisingamangaraja XII sebenarnya tidak mengenal huruf dan tulisan. Untuk itu, digunakan dua orang juru tulis dalam persoalan surat- menyurat, yakni Heman Silaban dan Manse Simorangkir.  Kedua juru tulisnya tersebut merupakan alumni Zending IL Nomensen yang kemudian berbelok arah memihak Sisingamangaraja karena tidak lulus dalam ujian menjadi guru.

Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Unimed Ichwan Azhari mengatakan, masih banyak misteri yang masih perlu diteliti lebih jauh tentang Sisingamangaraja XII, baik tentang hidupnya, surat-suratnya, maupun agamanya. Tentang kematiannya juga masih menjadi misteri. Kalau benar Sisingamangaraja XII di tembak mati oleh serdadu Belanda bernama Christopel, kenapa dia tidak naik pangkat seperti layaknya pasukan-pasukan Belanda lainnya yang berhasil mematahkan perlawanan-perlawanan musuh. “Begitu juga dengan surat-suratnya yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Kita tidak mengetahui apa sebenarnya isinya. Semua ini masih menjadi tanda tanya di kalangan sejarawan”, ujarnya.

Perlu kita mengetahui bagaimana dan siapa sisingamangaraja XII dimata Keristen Protestan HKBP sbb:

PAHLAWAN NASIONAL INDONESIA SI SINGAMANGARAJA XII DI MATA HKBP

Oleh: Pdt. Rachman Tua Munthe,MTh
(Praeses HKBP Distrik III Humbang)

PENDAHULUAN

Dalam buku kecil (saku) berjudul “Abastraksi Pelayanan DR.Ingwer Ludwig Nommensen di Tanah Batak” yang disusun oleh Seksi Sejarah dan Penggalian Nilai Budaya Panitia Napak Tilas Perjalanan DR I.L.Nommensen Di Tanah Batak Tahun 2007, ada dicatat pada hal. 24-25 demikian:

"Waktu perang Raja Sisingamangaraja XII melawan Tentara Belanda. Nommensen mengambil sikap bijaksana dan netral. Peranan Pdt.I.L.Nommensen yang sudah ditetapkan menjadi Ephorus HKBP sejak Tahun 1881, yang berkedudukan di Pearaja Tarutung sangat berperan banyak dalam hal ini. Karena dia bukan bangsa Belanda, tetapi Jerman, dan berusaha mengambil sikap netral, ditengah-tengah peperangan orang Batak dengan Belanda. Jika Tentara Belanda menimbulkan luka dan penderitaan, maka Pdt I.L.Nommensen membawa obat penyembuh luka dan penghiburan. Bersamaan dengan itu, dia menterjemahkan Injil dan kepercayaan kepada Tuhan Allah, AnakNya Yesus Kristus dan Roh Kudus, sebagai penyembuh yang Agung (Pandaoni Bolon).”

Sehubungan dengan hal di atas, bagaimana sebenarnya sikap HKBP sejak awal mulanya kepada Pahlawan Nasional Raja Si Singamangaraja XII menarik kita perhatikan. Sehubungan pada tgl. 17 Juni 2007 akan ada Pesta besar merayakan 100 TAHUN HARI ULANG TAHUN RAJA SISINGAMANGARAJA XII bertempat di Istana Raja Si Singamangaraja di Bakara, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Propinsi Sumatera Utara. Yang menurut informasi yang diberitahukan Bapak Bupati Humbang Hasundutan St.Drs.Maddin Sihombing MSi akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Tentu berbicara tentang sikap HKBP dapat berarti menunjukkan kepada gagasan politik atau pemikiran HKBP sebagai gereja dalam hubungannya dengan penguasa atau pemerintah/Negara di Indonesia .

BELANDA MEMASUKI DAERAH BATAK TAHUN 1878

clip_image008

Kita mengetahui HKBP dalam hal ini “Gereja Batak” yang diasuh Lembaga Zending RMG (Rheinischen Misions Gesellchaft) adalah lahir di daerah yang belum dikuasai oleh Kolonial Belanda sepenuhnya, yaitu pada tahun 1861. Maka pemerintah yang pertama dihadapi HKBP adalah Raja-Raja Batak, yang terdiri dari Raja-raja Bius atau Raja Huta (Pengituai Desa), termasuk di dalamnya Raja Sisingamangaraja. Gereja belum mengahadapi masalah yang berhubungan dengan social politik terutama oleh sistim pemerintahan modern.

Baru setelah tahun 1878 Belanda memasuki daerah Batak dengan 306 desa di Silindung dan Sipoholon menjadi wilayahnya. Pada mulanya memang politik colonial Belanda dijalankan di tanah Batak adalah terutama di wilayah yang sudah menjadi Kristen. (Band. Clark E.Cunningham, “The Postwar Migration of the Toba Bataks to East Sumatra ”, Yale University 1958). Hal ini sehubungan dengan politik colonial Belanda sejak tahun 1850 dengan motif ekonomis, perluasan militer, perluasan pegawai, perluasan politik dan agama, yang berkaitan dengan liberalisme, humaniterisme, kristianisme yang ikut serta dalam membentuk politik colonial Belanda. Semuanya ini dalam gerakan pasifikasi dari pemerintahan colonial Belanda.

Si Singamangaraja XII tidak menyetujui pemasukan desa-desa di Silindung – Sipoholon (306 desa itu) menjadi wilayah pemerintahan Belanda.. Sejak itulah timbul perjuangan Sisingamangaraja XII selama 30 tahun (1877 – 1907), yang berusaha memerdekakan daerah Batak. Dari buku “Eben-Ezer 75 Taon Hoeria Kristen Batak Protestant”, Laguboti 1936, yang mencatat perjalanan HKBP tahun 1861-1936 memang kita membaca bahwa tulisan tersebut cenderung mendukung pemerintahan Belanda dan menyudutkan perjuangan Si Singamangaraja XII. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Raja Si Sisingamangaraja XII yang membuat keributan, yang menghambat jalannya usaha penginjilan, yang mengadakan permusuhan, bukan hanya terhadap pemerintah Belanda, tetapi juga terhadap Zending. Dalam buku J.Sihombing, “Saratus Taon Huria Kristen Batak Protestan (1861-1961) juga mencatat bahwa kedatangan pemerintah Belanda di daerah Batak ikut berperan meningkatkan kuantitas orang-orang Batak Kristen. Hal itu terjadi terutama setelah kedatangan Gubernur Ariens dari Padang ke Silindung tahun 1869, banyak dibabtis menjadi Kristen di Silindung, orang-orang Batak di Sigompulon bebas masuk menjadi Kristen. Memang dicatat penyambutan penduduk Sigompulon terhadap kunjungan Gubernur Ariens tgl. 14 Desember 1868 luar biasa meriahnya. Mungkin hal ini pengaruh Pdt Heine dan Pdt. Van Asselt yang melayani di tempat itu. (Lihat. A.A.Sitompul -penyunting-, “Perintis Kekristenan di Sumatera Bagian Utara”, Jakarta 1986).

J.Sihombing juga menuliskan setelah Si Singamangaraja XII mengungsi dari Bakara, waktu itu berkembanglah kekristenan di Lintongnihuta dan Doloksanggul terutama setelah meninggalnya Si Singamangaraja XII tahun 1907, maka Humbang masuk Kristen. Dapat kita katakan terutama pada waktu pemerintahan Belanda meluaskan wilayah pemerintahannya di daerah Toba, banyak dimanfaatkan tenaga orang Batak yang telah mendukung Belanda melawan orang Batak yang mendukung Si Sisingamangaraja. Jadi bukan orang Batak Kristen yang berperang melawan orang Batak “Sipelebegu”, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Makanya dalam buku kecil “Sejarah Ringkas Dari R.Si Singamangaraja ke-XII”, Balige 1969. Bupati K.D.H. Tapanuli Utara selaku Ketua Umum Panitia Pembangunan/Peresmian Monumen Pahlawan Revolusi May.Jend. (Anumerta) D.I.Panjaitan di Balige, yang dihadiri Presiden Soeharto, mengatakan tentang keterlibatan orang-orang Batak yang ikut menyerang Si Singamangaraja XII sebagai “oknum-oknum yang mengkhianati perjuangan bangsa”.

SIKAP HKBP DALAM PERANG SI SINGAMANGARAJA XII

Sebagaimana dicatat dalam Tesis MTh dari Rachman Tua Munthe, “Sejarah Sosial-Politik Di Indonesia Dan Respons HKBP Terhadapnya, Terutama Melalui Sinode Godang Dan Majalah Immanuel: 1890-1965”, Pematangsiantar 1991 hl.21-22 (tidak diterbitkan), “Selama usaha pendudukan Belanda di Tanah Batak (1878-1908) banyak kampung-kampung yang dibakar. Pihak para tokoh gereja menunjukkan jalan perdamaian, agar Si Singamangaraja XII mau berdamai (mardenggan) dengan pemerintah Belanda.” Namun sebagaimana dicatat Edward O.V.Nyhus dalam bukunya: “An Indonesian In The Midst of Social Change: The Batak Protestant Christian Church, 1942-1957 (disertasi PH.D.) Wisconsin – Madison, 1987, karena ancaman-ancaman yang dilancarkan Si Singamangaraja XII, yang tidak hanya melawan pemerintah Belanda, tetapi juga menolak Zending, maka RMG dan orang-orang Kristen berpihak kepada pemerintah Belanda. Sehubungan dengan ini Lothar Schreiner dalam bukunya “Telah Kudengar Dari Ayahku – Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak”, Jakarta 1978, mengatakan: “Dalam sastra popular Si Singamangaraja XII muncul sebagai musuh bebuyutan agama Kristen. Terhadap penilaian yang berat sebelah ini diberi pertimbangan bahwa keadaan mau tidak mau mebuat dia menjadi lawan Zending dan pemerintah colonial. Lama Nommensen berusaha membantu mengikat suatu perjanjian antara dia dan pemerintah, dengan bersandar kepada perjanjian-perjanjian dengan lain raja-raja dan sultan-sultan setempat. Dengan cara ini serentak pula ia berharap dapat menjauhkan kekuasaan colonial dari Tanah Batak. Tetapi seorang utusan Zending Belanda, J.H.Meerwaldt, melalui berita yang berat sebelah, berhasil mempengaruhi pendapat umum di negeri Belanda tentang Si Singamangaraja. Itu mengakibatkan masuknya tentara colonial. Raja-datu itu dibunuh oleh tentara ini dalam pengejaran. Mayatnya dipertontonkan oleh pemerintah colonial secara terang-terangan di salah satu pasar yang terbesar di daerah Batak, untuk meyakinkan penduduk bahwa ia sudah benar-benar mati.”

clip_image010

J.T.Nommensen dalam buku “Ompu i DR. Ingwer Nommensen, Jakarta 1974, mencatat, Si Singamangaraja XII tidak menolak peranan Nommensen (Ephorus) sebagai juru damai, bahkan diminta kehadiran I.L.Nommensen bertemu dengan Si Singamangaraja sendiri, sebelum meledak perang di Bahalbatu tahun 1878. Tetapi entah alasan apa Kapten Scheltens menghalangi kehadiran I.L.Nommensen untuk bertemu dengan Si Singamangaraja. Dan entah alasan apa juga Si Singamangaraja tidak menuruti usul Kapten Scheltens. Akibatnya, meletus perang yang dimulai dari pihak Si Singamangaraja sendiri menyerang markas Belanda di Bahalbatu. (Band. W.B.Sijabat, Ahu Si Singamangaraja, Jakarta , 1982).

Keterlibatan “parbegu” (orang Batak yang masih belum masuk Kristen) memang besar dalam membantu Si Singamangaraja XII. Sebagaimana dicatat J.T.Nommensen bahwa diinformasikan di tiap-tiap pasar di Tanah Batak, orang-orang parbegu tidak perlu takut, karena mereka tidak akan diganggu pasukan Si Singamangaraja XII, asal tidak memihak kepada orang Kristen. Yang diancam usir dan dibunuh adalah orang kulit putih dan orang yang beragama Kristen. Dengan disamakannya orang Kristen dan pemerintah, rupanya telah mengundang aktifnya I.L.Nommensen mengikuti peperangan Belanda terhadap pasukan Si Singamangaraja XII. Sebelum perang di Bahalbatu (1878), I.L.Nommensen hadir di sana menjemput keluarga Pendeta Metzler yang bertugas di tempat itu. I.L.Nommensen juga hadir mengikuti pengejaran oleh pasukan tentara Belanda ke Paranginan, Hutaginjang, Meat dan Gurgur. (band. Andar Lumbantobing, “Parsorion (Riwayat Hidup) ni Missioner Gustav Pilgram Dohot Harararat ni Hakristenon di Toba”, P,Siantar 1981). I.L.Nommensen berjasa sekali mengadakan perjanjian di antara pemerintah Belanda dengan raja-raja huta yang telah takluk atau yang telah ditinggalkan oleh pasukan Si Singamangaraja XII. (H.Kraemer, “Sending di Hindia Belanda” dalam H.Baudet, dkk, “Politik Etis dan Revolusi Kemerdekaan”, Jakarta 1987). Mereka umumnya masih menganut agama “Parbegu”. Posisi I.L.Nommensen sebagai perantara memang ternyata besar manfaatnya untuk memasukkan keluarga raja-raja yang telah diikat perjanjian itu memasuki agama Kristen. O.L.Napitupulu dalam “Perang Batak Perang Sisingamangaraja”, Jilid I, Jakarta 1971, mencatat usaha I.L.Nommensen yang terutama adalah mencegah timbulnya peperangan atau tindakan-tindakan kekerasan. A.Sibarani dalam “Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Ever Ready 1980, menyatakan banyak orang-orang yang menyerah pada Kompeni Belanda melalui I.L.Nommensen. Kemudian kita melihat, penjelasan-penjelasan yang diberikan I.L.Nommensen rupanya dapat meyakinkan raja-raja Batak taat kepada pemerintah dan masuk agama Kristen.

POSISI ZENDING PADA PERANG SI SINGAMANGARAJA XII

Keterlibatan gereja dalam perang melawan Si Singamangaraja XII A.Sibarani melihat adalah karena alasan pertama dari kedatangan Belanda merupakan suatu tindakan “membela dan melindungi” kehidupan gereja dan pendeta-pendeta Zending di Tanah Batak (Silindung). Di mana banyak raja-raja yang belum Kristen tidak setuju kepada raja-raja yang rela hati menyerahkan tanah kepada Zending untuk tempat mendirikan rumah dan gedung gereja. Raja yang banyak kerjasama dengan Pendeta Zending dan bersedia menyediakan tanah di Silindung ialah Raja Pontas Lumbantobing. Banyak pengemat menyebutnya kemudian sebagai benefactor (pembuat amal) (Lihat M.Hutauruk, “Sejarah Ringkas Tapanuli Suku Batak”, Jakarta 1987).

Akibat dari usaha pemerintah Belanda yang mendukung gereja atau raja-raja yang menyetujui berdirinya gereja, tentu pihak gereja juga telah berada di pihak Belanda. Namun beberapa kali A.Sibarani mencatat bahwa perang gerilya Si Singamangaraja XII bukan ditujukan kepada agama Kristen atau para pekerja Zending di Tanah Batak. Si Singamangaraja bukan penentang agama Kristen. Diserangnya atau dibakar beberapa rumah gereja adalah karena seringnya pasukan Belanda menjadikan bangunan-bangunan Zending (rumah) itu tempat persembunyian atau markas mereka. Dalam hal ini memang ada yang berpendapat sebaliknya yang mengatakan “bahwa pendeta-pendeta Jerman membujuk kepala-kepala adat supaya memihak pada Belanda melawan pasukan Batak” (Lihat “Sejarah Ringkas dari R. Si Singamangaraja ke-XII, Balige 1961. Buku ini dipersembahkan kepada Presiden Suharto yang mengadakan ziarah ke Makam Pahlawan Nasional Raja Si Singamangaraja XII, tgl. 1-10-1969 di Soposurung Balige). A.Sibarani juga mencatat kehadiran I.L.Nommensen pada tempat-tempat terjadinya peperangan bukan yang mengikuti pasukan Belanda, tetapi kedatangannya adalah inisyatif tersendiri untuk mencoba menghubungi kedua belah pihak yang berperang untuk mengadakan suatu perundingan mencegah banyaknya pertumpahan darah. (Band B.H.Situmorang, “Sikap Orang Kristen (2), Jakarta 1983).

Dari penjelasan di atas dapat kita katakan, gereja HKBP yang dipimpin oleh Ephorus Pdt DR. I.L.Nommensen tidak terlibat dalam perang. Tetapi orang-orang Batak yang menjadi Kristen merekalah yang banyak turut serta mendukung kehadiran pemerintah Belanda. Gereja tetap berusaha sebagai juru-damai.

Dan bila lebih jauh kita coba meneliti bagaimana sebenarnya hubungan Gereja dan Pemerintah pada waktu itu, sulit dapat kita kaji bila hanya dilihat dari sudut tulisan-tulisan orang Barat. Karena, seperti dikatakan W.B.Sijabat, tidak ada orang Barat yang dengan terus terang mengatakan/menuliskan bahwa tujuan kedatangan Belanda ke Sumatera Utara (ke daerah merdeka seperti tanah Batak) adalah untuk memperoleh laba dengan jalan mudah. Alasan-alasan yang disebut ialah: menjaga “keselamatan para utusan-zending yang terancam”; mengamankan “perselisihan intern “orang-orang Batak. Kehadiran pemerintah Belanda merupakan permintaan langsung dari penduduk pribumi. Belanda mengadakan baji-baji dalam arti politis militer antara Minangkabau dan Aceh. Belanda takut Perang Aceh merambat ke seluruh Sumatera. Sijabat mencatat, Belanda adalah kurang respek kepada usaha zending di Sumatera. Tetapi rupanya pemerintah Hindia Belanda menginginkan Zending selalu berada di pihaknya. Bahkan Belanda seolah-olah mau “memaksa” agar Zending membantu usaha penguasaan pemerintah Hindia Belanda. Namun demikian dalam penelitian W.B.Sijabat mencoba menunjukkan tidak ada kerjasama di antara Zending dan Pemerintah Belanda, misalnya dalam menghapuskan perbudakan di Tanah Batak.

KESIMPULAN

Pengaruh timbulnya perlawanan Si Singamangaraja XII terhadap Belanda kepada kehidupan gereja terasa hanyalah sekitar tahun 1877-1889. Pada tahun 1877 saat mana banyak hasutan-hasutan dari pihak Si Singamangaraja XII mau membunuh orang-orang kulit putih dan orang-orang Kristen. Kemudian tahun 1878-1889 pada saat terjadinya peperangan di Bahalbatu, di daerah Toba (Balige) dll. Setelah tunduk tanah Batak kepada pemerintah Belanda jelas telah mempercepat penginjilan Pdt DR.I.L.Nommensen dengan kawan kawan di daerah pusat Batak, Toba. Tahun 1890-1895 adalah masa tenang di mana Si Singamangaraja XII telah bermukim di hutan Parlilitan (Kabupaten Humbang Hasundutan) dan membangun kerajaannya di sana . Sementara Zending dan Gereja makin meluas di tanah Batak, Toba, Samosir. (Hingga kini para penulis sejarah umumnya mencatat bahwa gagalnya Pahlawan Nasional Si Singamangaraja XII melawan Belanda, mengakibatkan pekabaran Injil dapat berkembang dengan bebas di Tanah Batak. Lihat misalnya Th.van den End, “Harta Dalam Bejana – Sejarah Gereja Ringkas”, Jakarta 2000). Di antara tahun 1895 sampai terbunuhnya Si Singamangaraja XII tahun 1907, tidak ada lagi perlawanan yang berarti dari pasukan Si Singamangaraja XII kepada pemerintah yang mengganggu keamanan Gereja. Selama timbulnya bentrokan di antara Si Singamangaraja XII dengan pemerintah Belanda, Gereja (Zending) berada pada pihak ketiga yang mencoba mengadakan perjanjian perdamaian. Dengan demikian, pemerintah colonial Belanda tidak sejajar dengan Zending dan Gereja..